Thursday, 9 June 2016

NYADRAN, RITUAL YANG MENGIRIS HATI




Hari minggu tanggal 5 Juni kemarin atau satu hari sebelum menjalankan ibadah puasa ramadhan. Kami (aku dan suamiku) nyadran ke makam kedua anak kami. Nyadran adalah ritual yang dilakukan dengan mengunjungi makam sanak saudara/kerabat yang sudah meninggal. Adapun yang dilakukan disana adalah mendoakan sang arwah dan menaburkan bunga diatas makamnya. Ritual ini biasanya dilaksanakan hari kamis/jum’at. Atau hari-hari menjelang puasa Ramadhan, seperti saat ini.

***
Makam begitu ramai ketika kami berdua datang. Nampak berbagai macam orang yang mengunjungi makam keluarga mereka. Meski mereka orang yang berbeda, namun roman muka mereka semua sama. Sama-sama menyimpan guratan kesedihan yang mendalam.

Setelah memarkirkan motor, aku dan suamiku beranjak menuju makam anak-anak kami. Letaknya berdekatan satu sama lain. Ada perasaan yang begitu perih begitu melihat kedua gundukan itu disana.  Kami pun bergegas membersihkan sekitar makam.  Ada sebuah nama yang terpampang di masing-masing patok. Lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematian mereka. Filza Liyana lahir tanggal 28 Oktober 2010 dan meninggal tanggal 15 Mei 2011. Sedangkan patok satunya bertuliskan nama adiknya, Huzzi  Firdaus Al Harits. Lahir pada tanggal 13 Juli 2014 dan meninggal ditanggal yang sama.

Begitu selesai membersihkan dedaunan kering diatas makam mereka berdua, aku menyodorkan buku tahlil kepada suamiku, agar beliau memimpin do’a. Aku menundukkan kepala agar air mataku tertahan. Tapi untuk kesekian kalinya (dan mungkin selamanya) akan tetap sama. Buliran itu takan pernah bisa dicegah untuk tak keluar dari muaranya. Ah, mataku berkeliling. Tampak semua orang melakukan hal yang sama. Bahkan ada yang terisak meninggalkan suara. Akupun terhanyut. Kubiarkan air mata itu jatuh dan terus menderas seiring doa yg ku lagukan keras, dalam hatiku.

Aku semakin tak sanggup menahan isak ketika menaburkan bunga. Memetik kelopak demi kelopak untuk kemudian menghamburkannya diatas makam. Ada berjuta kenangan disana.  Dari detik-detik kelahiran mereka, sampai hari-hari terindah dalam hidupku ketika filza ada. Sedang Huzzi, ada jutaan rasa bersalah yang selalu mengusik dan menyeruak untuk hadir  disetiap sudut hati yang paling dalam. Rasa bersalah karena belum sempat mengecupnya. Mengelusnya. Memeluknya, bahkan untuk sekedar melihat sosoknya. Aku hanya punya 2buah foto dan sebuah video ketika dia berada di NICU untuk mendapatkan oksigen lewat selang sebagai kenang-kenangan. Berjuta sesal itu tiba-tiba bermunculan. Sesal ketika hari kelahirannya yang kuundurkan, sesal karena aku yang sempat berharap agar dia berjenis perempuan dan sesal sesal sesal yang saling unjuk diri dan berjejal dikepala. Ah rasanya kalo aku diijinkan untuk sejenak memeluknya, aku hanya ingin berucap maaf maaf dan maaaffffffff yang tiada terkira. Tapi kusadari waktu takan pernah kembali. Oleh karenanya, aku yang selalu berderai melihat makam huzzi. (Semoga kelak, jika aku dipertemukan kembali, dia akan memelukku dan bersedia tidur dipangkuanku. Mengijinkanku membelainya, memangku dan memeluknya erat. Semoga.)

Belum selesai air mata ini menetes, kudengar seorang ibu yang sedang kesal dan setengah mengumpat. Ada bebrapa anak kecil dan beberapa orang dewasa yang mengerumuninya. Mereka berebut untuk meminta uang kepada sang ibu tersebut. Hatiku kembali tergelitik. Ada seorang anak kecil yang umurnya sekitar dua tahun diatas filza ikutan merengek untuk mendapatkan uang seperti orang-orang disana. Sedangkan orang dewasa  disebelahnya tampak bertato hampir disluruh tangannya.
Ingatanku melayang pada jaman dulu. Duluuu sekali ketika aku masih kecil dan diajak oleh ibu untuk nyadran ke makam eyang buyutku. Sang penjaga adalah seorang bapak renta dengan baju koko lusuhnya. Tampak membungkuk ketika kami menyodorkan uang sebagai ucapan terimakasih telah menjaga makam. Tak hanya menerima uang, beliau bahkan mendoakan kami agar ikhlas dan juga tambah rejekinya. Bukan seorang dewasa bertato atau bahkan anak-anak dibawah umur yang seharusnya tempat bermainnya bukan di area kuburan. Bukan juga saling berkeroyok untuk memeperebutkan uang. Bukan mengumpat ketika uang yang diberikan tidak sesuai keinginan, tapi mendoakan. Bukan dengan pakaian sobek-sobek ala preman, tapi baju koko atau at least baju yang sopan. Benar-benar fakta berbalikan yang membuat miris juga giris.

Sentuhan tangan suamiku membuyarkan semua kenangan. “Waktu untuk pulang” isyaratnya dengan menjentikkan salah satu jarinya di atas jam tangan. Aku beranjak berdiri setelah sebelumnya menempelkan jari dibibir dan mengecupkannya diatas kedua patok bergantian.
“Selamat jalan, Nak.” Ujarku pelan. “Doakan Mamah Papah dan saudara2mu kelak bisa menjemput kalian digerbang yang sudah Tuhan tentukan,ya. Sambut kami disana dengan pelukan. Mamah rindu dan sayang kalian.”

Kamipun bergegas pulang. Berbeda dengan sang ibu tadi, tak tampak anak kecil dan orang dewasa bertatoan menyambangi.  Hanya seorang bapak yang sudah agak tua meminta “jatah”nya. Setelah mengulurkan uang dan bapak itu membalikkan badan, aku mencoba melihat sekitar. Menangkap semua dalam memori ingatan. Tentang semua kenangan juga semua hal yang berhasil mengiris perih hatiku  tadi. Disini.


Purwodadi, 10 Juni 2016


13 comments:

  1. Sabar bu, begitulah hidup ujian sedih senang, tapi tetap indah jika kita bisa mengambil hikmahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba vita. Romantika hidup yg harus kami berdua jalani. Banyak skali hikmahnya. Terimakasih ya.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Terharu membacanya, pasti ada hikmah dibalik semuanya ya Mbak :) Salam kenal Mbak Rahma :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Aamiin. Pasti seperti itu adanya. Tetap sllu percaya janji Allah kalo selalu ada kemudahan setelah kesulitan. Kebahagiaan setelah kesusahan. Terimakasih sudah berkenan mampir. Jabat erat buat mba widya =)

      Delete
    2. Aamiin. Aamiin. Pasti seperti itu adanya. Tetap sllu percaya janji Allah kalo selalu ada kemudahan setelah kesulitan. Kebahagiaan setelah kesusahan. Terimakasih sudah berkenan mampir. Jabat erat buat mba widya =)

      Delete
  3. turut berduka cita ya mbak..saya jadi ikut larut di dalamnya..smoga Allah memberi penggantinya yang lebih baik ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.Terimakasih y mb. Semoga Allah membalas doa mba prana dgn sejuta kebaikan2NYA. Aamiin

      Delete
  4. Jeng rahma, sungguh ,mengharukan tulisan kamu. Smg sll dlm keadaan sehat buat jeng rahma dan klrg ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasiy y jeng. Doa yg sama untukmu dan keluarga. *peluuuk*

      Delete
  5. Ah ... saya sedih sekali membaca tulisan ini Mbak ...
    Pasti sedih sekali kehilangan permata yang baru berusia 7 bulan ...
    lalu kemudian disusul adiknya yang baru berusia beberapa saat

    Tetapi insyaALLAH mereka akan mendoakan Mamah-Papahnya dan saudara-saudaranya dari Sorga. Amiiinnn

    Salam saya Mbak

    ReplyDelete
  6. Iya pak.. aamiin dan terimakasih sekali buat doanya. Salam hangat kembali dari kami sekeluarga ^^

    ReplyDelete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email