Sunday, 16 October 2016

ANTOLOGI : JODOH IN STORY



“Sudah nduk. Anggap aja dia bukan jodohmu!. Dari kelima anak Bapak, cuman kamu yang susah cari hari. Yang geblaknya mbah anu lah, mbah yang itulah”. Katanya laki-laki yang sudah merenta itu dengan tegas, juga keras. Membuatku tertunduk lemas. 
Butiran kristal putih itu turun satu-persatu dari pelupuk mataku.
Malam ini adalah kunjungan ketiga Mas Eko, calon suamiku dan rombongannya untuk menentukan hari.
Kunjungan pertama, atau “nothok lawang” dalam istilah kami sudah dilakukan satu bulan sebelumnya. Malam sesudah isya, Mas Eko dan keluarganya datang mengajukan lamaran. Menanyakan status dan kesediaanku untuk menerima pinangan lelaki yang kukenal belum lebih dari satu tahun itu. Ayah, Ibu dan keluargaku menyambut baik kedatangan keluarga Mas Eko, meski hari sebelumnya, Bapak sempat menanyaiku : “Apa tidak kecepetan to nduk kamu menikah?. Umurmu masih 25 tahun,lo. Apa gak pengen cari yang sudah lebih mapan, punya pekerjaan tetap?.” Kata beliau seolah masih enggan melepas putri bungsunya ini.
Aku paham maksud Bapak. Sebagai anak bungsu, embel-embel “manja” masih sangat melekat padaku. Dan soal jodoh, aku tahu kalau beliau ingin aku menikah dengan anak-anak temannya yang “katanya” anak kiai itu. Daridulu bapak dan ibuku selalu membanggakan teman-temannya yang punya anak bekerja di salah satu Departemen yang sama dengan mereka. Yang bapaknya sudah haji dan sudah jelas bibit, bebet, bobotnya. Masih satu garis dengan keturunan kiai ini, itu, anu yang pokoknya sudah kondang di daerahnya masing-masing.
Sebenarnya aku mengerti. Cuman soal jodoh, aku tidak ingin seolah menentukan takdirku. Karena aku sendiri tidak mengerti kriteria jodoh seperti apa yang aku ingini. Yang penting cuman satu, bapak ibuku memberi restu. Itu saja. Untuk kriteria, selama dia seagama, sayang dan setia aku akan menerimanya.  
Selama ini, aku juga selalu gambling soal jodoh. Karna aku percaya, jodoh sudah dituliskanNYA dari sejak aku belum lahir kedunia. Maka kubiarkan jodohku yang akan menemukan jalannya. Aku juga tak perduli cinta. Karena aku bukan orang yang gampang jatuh cinta. Bagiku, cinta selalu butuh proses dalam waktu yang berjangka. Baik lama maupun tidak lama.
Aku ingat betul, bagaimana ketika sebelum Mas Eko, ada beberapa pria yang jadi “korban” gamblingku. Seorang berpangkat tentara yang hendak menghampiriku untuk mendampinginya di acara wisuda bersama segenap keluarga besarnya terhalang datang karena mobil yang ditumpangi  tiba-tiba ban’nya kempes dan membuat mereka terlambat menghadiri acara,sehingga tidak jadi menjemputku yang sudah rapi dan bersiap didepan kos hampir dua jam lamanya. Juga seorang teman intel yang “rela” datang jauh-jauh dari Jakarta untuk menemuiku dan menyatakan pinangannya, tetapi entah mengapa jadwalku yang seperti dibuat “sibuk” oleh-NYA sehingga tak sedetikpun kami “diijinkan” untuk bertemu.
Jadi menurutku, kenapa harus ragu dengan apa yang digariskanNYA? Semua selalu punya jodoh yang akan datang di waktu terbaikNYA. Dan itu pasti sebaik-baiknya jodoh, selama kita memintanya dengan sesungguh-sungguhnya do’a.
Dan akhirnya, Mas Ekolah pria yang tuhan kirim untukku.  
Awal pertemuanku dengan Mas Eko terjadi setelah beberapa hari sebelumnya aku menerima sms bahwa dia akan main kerumah. Aku punya banyak teman pria yang bernama Eko. Jadi kupikir hanya seorang teman yang sedang iseng mengerjaiku lewat sms. Pun ktika kutanya eko yang mana, dia hanya menjawab kalau dia adalah tetanggaku. Sms-sms pun berlanjut. Akhirnya kamipun berjanjian untuk bertemu. Tanpa sengaja, hari yang sudah kita tentukan adalah hari dimana malam sebelumnya aku putus dari pacarku. (Pacar pilihan ibuku, tepatnya. Pacar yang kusetujui karena kata ibuku, dari sekian banyak teman pria yang datang kerumah, dia yang sholatnya paling betul gerakannya). Dan dari kalimat itulah, aku jadi tahu kalau selama ini, diam-diam ibuku mengamati setiap teman pria yang main kerumahku. (Ya hitung-hitung semacam seleksi alam ala buat ibuku, mungkin)
 Ketika Mas Eko datang, aku sudah rapi karena akan pergi reuni kerumah teman segank-ku jaman SMA. Akhirnya, kamipun pergi berdua dengan motor masing-masing. (Karena Bapakku tidak pernah mengijinkanku untuk berboncengan dengan lawan jenis selain saudara atau orang-orang yang dikenalnya).
Tanpa sengaja dan tidak dinyana-nyana, ditempat reuni aku bertemu dengan sang “intel” yang sedianya akan menemui dan meminangku dulu itu. Agak canggung kami bersalaman juga bertegur sapa. Untung ada banyak orang disitu,  jadi bisa bebas ngobrol dengan siapa saja. Tak lupa aku mengenalkan juga Mas Eko kepadanya dan teman-temanku.
Pertemuan itu seperti sebuah pembuktian bahwa gambling jodohku berlaku. Tuhan takan memberikan orang yang memang bukan jodohku. Bukankah itu juga takdir terbaikNYA? semua seperti sebuah adegan film yang sedang diskenariokan. Film yang dibuat oleh sehebat-hebatnya sutradara.
Sehari setelah acara reuni itu, aku mendengar dari temanku kalau sang intel mengirimkan salam untukku dan juga do’a agar aku segera menikah dan berbahagia selalu dengan Mas Eko. Dalam hati geli sendiri. Karna saat itu aku belum punya hubungan apa-apa dengan Mas Eko, semuanya masih resmi bertitelkan “teman”.
***
Pertemuan pertama dengan Mas Eko pun akhirnya berlanjut hingga minggu-minggu berikutnya. Hingga akhirnya, suatu hari dia menyatakan keinginannya untuk jadi pacarku. Tapi seperti yang selalu aku bilang pada setiap pria yang mendekatiku, aku berkata kalau aku tidak ingin pacaran. Kalau memang serius, aku ingin dia langsung melamarku dihadapan orangtuaku. Mas Ekopun setuju. Dia bilang ingin langsung menemui orangtuaku.
Satu sore di bulan Desember akhirnya keinginan Mas eko terkabul. Bapak dan Ibu yang mendengar kesungguhannya mengajukan “proposal lamaran” mas Eko, mengiyakan. Mereka bahkan menanyakan kepastian tanggal kedatangan orangtuanya dengan maksud agar Bapak bisa mengumpulkan anak-anaknya dihari lamaran tiba. Maklum, selain aku sebagai anak bungsu kesayangan juga keluarga kami adalah keluarga besar. Ada lima orang anak Bapak. Kesemuanya sudah berumah tangga dan tinggal di luarkota. Maka berita inipun akan jadi hal yang penting dalam keluarga kami. Berita yang paling ditunggu-tunggu oleh semua kakakku. Berita bahagia bahwa adik kesayangan mereka akan dilamar seorang pria. Dan adalah Ibu, orang yang paling bahagia mendengar kabar itu. Beliau bahkan sudah request kalo hari pernikahanku nanti harus jauh hari sebelum pensiunnya tiba. Ibu ingin mengumpulkan semua teman-temannya sekaligus sebagai acara perpisahan sebelum pensiun, katanya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengarkan permintaan beliau sembari mengamini dalam hati.
***
Beberapa hari setelah request mas eko diterima, bulan Januari dia harus bertolak ke Manado, untuk memenuhi tanggung jawabnya. Iya, calon suamiku itu bekerja disebuah perusahaan telekomunikasi yang menempatkannya disana untuk 5 bulan. Ketika pamit hendak berangkat ke Manado, ibuku ternyata sudah menyiapkan sebuah kado untuk “calon mantu”nya itu. Sebuah Al-qur’an kecil dengan sampul warna keemasan. Entah apa maksudnya. Ibu hanya tersenyum simpul ketika kutanya.
Menjalani LDR masa pacaran ternyata berat juga. LDR adalah hal yang paling kubenci. Padahal, dulu kalau lihat teman-teman pacaran pakai acara LDR selalu kuolok. Eh, ternyata pepatah jawa “gething,nyandhing” (bersanding dengan hal yang justru kita benci) berlaku di aku. Untungnya jaman itu sudah ada sms dan telepon meski kecanggihannya masih kurang dibandingkan jaman sekarang. Jadi komunikasipun masih selalu bisa dilakukan.
Akhirnya bulan Mei pun tiba. Tepatnya tanggal 5 Mei 2008, keluarga Mas eko melakukan kunjungan pertama mereka. Meski baru pertama kali bertemu, kedua keluarga sudah tampak begitu akrab  seperti sudah jadi keluarga sendiri.  Semuanya berjalan dengan sangat lancar hingga saat kunjungan balik dari keluarga kami kesana. Saat itu, Bapak tidak ikut karena badannya yang mulai merenta tidak bisa membuatnya pergi dan berkendara agak jauh dari rumah.
Setelah berbasa-basi sejenak, kedua keluargapun membahas soal tanggal pernikahan. Dan ternyata tanggal yang ditentukan Bapakku, ditolak oleh keluarga Mas Eko, karena bertepatan dengan “geblak” atau hari na’as (hari yang sama dengan kematian salah satu sesepuh atau keluarga dekat keluarga mereka).  Sesampainya dirumah, Bapak tampak marah ketika tanggal permintaanya itu ditolak. Wajahnya memerah. Nafasnya mulai tampak terengah.
Aku menyampaikan keberatan Bapakku pada calon suamiku. Akhirnya, keluarga Mas Ekopun mengalah. Mereka melakukan kunjungan keluarga yang kedua.  Keluarga Mas Eko yang mendatangi rumah kami untuk memberi tanggal yang baru.  Tapi ternyata Bapakku tetap bersikukuh dengan tanggal yang sudah ditentukannya dari sejak pertama. Akhirnya, rombonganpun pulang dengan tangan hampa.
Rasanya ingin menangis saja. Semua tanggal selalu berbenturan dengan peringatan hari naas di keluarga pria, sedang di keluargaku, Bapak masih saja bersikukuh dengan tanggal yang ditentukannya.
Kunjungan ketiga, aku dan suamiku yang merencanakan. Tanggal pernikahan  diambil bersamaan dengan peringatan hari ulang tahunku. Keluarga besar Mas eko sudah menyepakati karana kebetulan tanggal itu tidak bertepatan dengan tanggal naas di keluarga mereka. Kedua orangtuaku pun memberi restu. Alasan ingin merayakan hari ulangtahun sekaligus pernikahan lebih bisa diterima bapakku yang emang terkadang suka kumat “alot”nya itu.  Ah, senang bercampur haru sekali rasanya. Semua orang tampak menarik nafas lega. Ada yang bahkan sampai berkaca-kaca. Pertemuan yang sebelumnya tampak sedikit canggung itu langsung melumer. Hatiku berbunga. Akhirnya hari nikahku jadi juga, setelah begitu panjang dan lama proses penentuannya. Rombongan keluarga Mas Eko pun kembali ke rumah dengan wajah sumringah. Tinggal mas eko sendiri yang emang “jatahnya” mengapeliku di malam minggu.
Beberapa menit kemudian,  ibuku baru teringat kalau tetangga sebelah juga akan menikah di bulan yang sama. Untuk memastikan, beliaupun bergegas kesana untuk menanyakan. Dan ternyata oh ternyata, tanggal yang kami inginkan sama. Tetangga sebelah bahkan sudah menyewa gedung yang sedianya akan kami tempati untuk pernikahan kami. Wedding organizer yang dipilihpun sama.
Mendengar kabar itu, Bapak langsung meradang.  Berulang kali pegang kepala. “Kalo tanggal itu tidak bisa, berarti ya tidak bisa. Ini benar-benar memusingkan!” katanya.   Seperti tahu diri. Calon suamiku  pamit pulang.
Ibu hanya mengelus rambutku, setengah terisak aku mendengar beliau berkata : “ Owalah, mesakke men, Nduk. Nasibmu.” Berulang kali pula beliau menyeka air matanya, bersahutan dengan isak tangisku sendiri.
“Seumur hidup Bapak jadi penghulu. Tiap kali ada yang bercerai, Bapak selalu nanya : “Apa dulu, sebelum menikah tidak dihitung dulu ? weton dan tetek bengeknya itu?. Semua menjawab “Sudah.” Lalu, kenapa masih bercerai?. Dalam kamus Bapak, semua hari itu baik. Lawong yang bikin hari itu Gusti Alloh,je. La kalau mbahnya ada 6, meninggalnya dihari yang berbeda semua. Lak yo, jadi geblak semua to?  Jadi hari na’as semua?.” Sanggahnya dalam serentetan kata tanya.
“Lalu, kalo calon suami dan keluarganya  mau menerimamu. Mengapa harus percaya dengan geblak ini, geblak itu?” Kata bapakku sambil terengah, menahan rasa yang “mungkin” sedang berkecamuk dan membuncah di dada dan pikirannya.
Aku tak mau tahu. Kesedihanku sudah terlalu memuncak. Tangis itu terus menderu hingga berlalunya waktu dan membuatku tertidur dipangkuan ibuku.
Keesokan harinya, sosok calon suamiku bersama Ayahnya tiba-tiba datang kerumah. Berdua. Tanpa  didampingi  rombongan keluarga besar seperti  malam sebelumnya.
Bapakku memberi isyarat agar aku membiarkan mereka berbicara delapan mata. Ya. Cuman empat orang! Tanpa aku. Hanya Bapak, ibu, calon suamiku dan bapaknya.
Aku menebalkan telinga dari balik daun pintu. Entah apa yang mereka perbincangkan. Dan  sayup-sayup aku mendengar suara yang dikeras-keraskan dengan sedikit bergetar:
“ Njih, Pak. Saya bersedia mengikuti hari yang sudah Bapak tentukan. Saya, Ibunya Eko, Eko, dan adiknya yang akan menanggung semua apabila terjadi sesuatu jika pernikahan yg diadakan bertepatan dengan “geblak” di keluarga kami.”
“Jadi bapak setuju? Kalo begitu, berarti pernikahan ini jadi diadakan. Saya menerima pinangan Mas Eko, anak bapak.” Suara serau Bapakku kali ini begitu terdengar merdu. Jauh sekali dari kata-kata amarahnya tadi malam.
Tangisku kembali mengguncang. Tangis yang berbeda dari tangis-tangisku sebelumya. Tangis bahagia pengganti senyum yang mengembang. Lebar.
Tiba-tiba pintu ruang tamu terbuka. Ibu langsung menyambutku dengan pelukan. Sambil menangis, beliau menciumiku. Aku tahu ibu pasti tak kalah bahagianya denganku. Aku menciumi tangannya. “Iya, ibu dan bapak sudah merestui kalian.” Kata ibu, seolah mengerti kata apa yang hendak kuucapkan.
“Bapak..Bapak tidak marah’kan?” tanyaku kepada Bapak penuh tanya. Bapak tampak menggeleng. Aku meraih tangan Bapak dan menempelkannya di dahiku. “Kalo begitu, aku minta doa dan restunya ya, Pak.” Anggukan kepalanya sudah berarti menegaskan.
 Calon suamikupun mendekat. Sambil mengelus rambutku, dia bilang : “Kalau ada apa-apa jangan menyerah duluan. Jangan menangis duluan.” Kuseka airmataku dengan tersipu. 
"Ah, ada yang kutahu sekarang. Bahkan jodohpun, harus selalu diusahakan. Karna letaknya bisa jadi ada di ujung pangkal usaha kita.

Purwodadi, 4 September 2016.


                                                   
(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba kumpulan "ANTOLOGI JODOH" di fb Dwi Suwiknyo) 





No comments:

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email