Thursday, 26 January 2017

9th Days Challenge : Hi, Huzzi


Hi, Huzzi.
Ini adalah tulisan pertama yang Mama tulis untukmu sejak engkau pergi di bulan Juli 2014 yang lalu.
Maaf baru bisa menuliskannya sekarang. Karena butuh waktu lama untuk menata hati yang rasanya sudah sangat berserakan. 

Ketika menulis ini, Mama membayangkan dirimu sedang berlarian bersama kak Filza yang sudah dipanggilNYA terlebih dahulu. Dua tahun sebelummu. Berpakaian dengan yang serba indah ditaman surgawi yang mewah. Tempat terbaik yang mungkin tidak bisa Mamah berikan di dunia ini.

Huzzi, setiap kali menuliskan ataupun hanya mengeja namamu. Rasanya kesedihan itu masih selalu menyeruak. Meminta sedikit bagian dari hati yang terdalam untuk tersibak. Yang pada akhirnya menyisakan butiran kristal yang turun berderap tanpa bisa ditahan.

Entahlah ada berjuta perasaan bersalah yang hadir dan ingin terungkapkan. Sekelumit perasaan bersalah, karena Mama tidak bisa mengendalikan perasaan yang datang. Termasuk tudingan orang-orang itu. Kau tahu kan? Kita telah banyak berbicara selama engkau masih di perut. Dari apa yang sudah pernah Mama alami hingga ketakutan Mama disetiap malam. 
Sekarang mama tau, bahwa kehamilan bukanlah sesuatu hal yang bisa digampangkan. Bukan hanya fisik, tapi psikis pun harus disiapkan. 

Huzzi Firdaus Al Harits
"Bintang di surga dari keturunan Al Harits--nama lain dari nabi Muhammad SAW"

Maaf, belum pernah sekalipun menggendong, memeluk, mencium, bahkan melihat sosokmu meski telah 9 bulan kita menyatu dalam satu badan. Untuk melihat fotomu yang penuh selang pun baru bisa kulakukan setelah berhari-hari kepergianmu dariku.
Bukan inginku, tetapi dokter yang tidak memperbolehkan. Alasannya agar aku tidak shock. Aku mungkin menurutinya, tapi perasaan seorang ibu tidak pernah bisa berbohong. Berhari-hari tertahan di RS untuk pemulihan rasanya seperti sesorang yang akan dihukum mati, tinggal menunggu algojo datang. Ingin berteriak, memaki dan menonjok apapun yang ada di sekitarku. Aku sedih! Terlalu sedih malah. Bahkan pelukan-pelukan siapapun tidak bisa lagi menenangkan. Aku marah! Marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa mencegahmu untuk pergi dan tetap bertahan disisiku? Apa salahku? *dan kemudian akupun tergugu*.

Tapi yasudahlah. Selalu ada hikmah disetiap pelajaran. Tuhan terlalu sayang. Hingga menempatkanmu di tempat terbaik yang tak sembarang orang bisa dapatkan.

Dan untuk apapun itu, kita sudah melakukan yang terbaik ya, Nak. Terimakasih sudah selalu mendengar apapun cerita Mama. Cerita bahagia, pun keluh kesah Mama. Terimakasih sudah menjadi bayi yang hebat. Dan tidak pernah merepotkan sama sekali seperti Kak Filza selama di perut Mama. Terimakasih pernah ada di rahim Mama. Untuk sekelumit waktu yang Mama harap bisa dipanjangkan.

Baik-baik disurga ya, Nak.
Salam kecup dan peluk sayang untuk kalian berdua. Kesayangan Mama. Huzzi dan Filza.

26012017


#10DaysKF #KampusFiksi



6 comments:

  1. turut berduka cita ya mbak..smoga si kecil khusnul khotimah..mendapat ganti yg lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiin aamiiin yra. Makasih doana mbak...

      Delete
  2. Insyaallah si kecil tetap hebat dan bahagia di beda alam sana Mbak, amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pasti sperti itu ya mbak. Twirmakasih

      Delete
  3. Masya Allah, betapa besar ujianmu Rahma. InsyaAllah mereka berdua menjadi penghuni surga yang kelak menolong ayah bundanya, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Tak ada keluarga yg dempurna ya. Setiap keluarga punya ujiannya masing2. Btw makasih doanya y. Aaammiin aamiin yra.

      Delete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email