Sunday, 19 February 2017

# #1Minggu1Cerita

Menanti datangnya cinta



"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu  benar-benar mencintaiku?" 
"Menikahimu". 

Itu adalah sekelumit pertanyaan yang selalu aku ajukan untuk mengalihkan keinginan Saddha untuk melamarku. Bagaimana bisa, seseorang yang baru beberapa minggu aku kenal, dengan mudahnya bilang mencintaiku? Ah, tidak tidak. Aku tidak ingin lagi terjebak pada cinta yang pernah menyakitiku. Cinta yang membuatku terluka hingga trauma.

Saddha bukanlah seseorang yang istimewa bagiku pada awalnya. Dia pendiam, cenderung sangat pendiam. Berbeda karakter sekali denganku. Tak banyak yang aku tahu ketika pertemuan pertama kami di senja itu. Juga pertemuan-pertemuan berikutnya.

Dia bukan sosok yang pernah aku bayangkan akan hadir di hidupku.  Bukan yang aku idam atau impikan. Karena lebih dari kesamaan, yang kami miliki justru hampir semuanya berkebalikan. Kesukaan, keinginan, obsesi, sudut pandang. Aaah. Kami sungguh-sungguh berbeda satu sama lain.

Tapi seperti biasa, Tuhan selalu punya kejutan. DIA hadir dalam segala hal yang bahkan bagi kita bisa jadi bukanlah suatu keniscayaan. Sama seperti hadirnya Saddha. Yang datang tepat ketika aku sedang terluka. Luka yang bagiku mungkin takan pernah ada obatnya. Luka yang wujudnya seperti slide yang berputar terus-menerus tanpa bisa kucegah datangnya. Tak hanya  di mata. Tapi juga kepala. Dia hadir disaat setiap hari bagiku adalah air mata.

"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu benar-benar mencintaiku?".
"Menikahimu". 

Dan kata-kata itu yang selanjutnya selalu bernaung di pikiranku. Meninggalkan gaung hingga raung di dalam setiap relung tubuhku.

Menorehkan sekian tanya tentang apakah aku akan bahagia? Apakah ada lagi tawaku yang lebih keras dari yg sebelumnya? Sanggupkah ia ciptakan bahagia diatas balutan luka, dengan menutup setiap luka yang sudah terlanjur menganga ?

"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu benar-benar mencintaiku?".
"Menikahimu" .
Ah, aku ini siapa? Rutukku ketika dia (untuk kesekian kalinya) menyatakan keinginannya untuk melamarku. Dia bahkan tak mengenalku sebaik orang yang ada untukku sebelumnya. 
Tapi, kedatangannya di suatu hari itu bersama kedua orangtuanya benar-benar membuktikan pernyataannya bukan sekedar omong kosong atau angin lalu.

Aku ciut melihat nyali besarnya. Beribu pertanyaan  seperti "Benarkah aku orang yg dicarinya?" sempat kembali menghujani pikiranku. Meracuni semua kata baik yang selalu berusaha diungkapkannya di sebalik sikap baiknya padaku.

Untuk itulah aku menatap lebih lama pada matanya. Mencoba mencari ketidakjujuran yang terperangkap disana. Seketika itu juga hatiku menelangsa. Karena yang kucari tidak kutemukan jua. Tak sedikitpun keraguan itu ada disetiap sudut, rona hingga binarnya.
Hingga akhirnya kutundukkan pandangan. Kuterima pinangannya. Aku menyerah. Tapi bukan kalah. Aku hanya pasrah.

Bukankah kelak, cinta itu bisa datang kapan saja?

RELATED STORY :  "Menikahlah!. Aku sudah memaafkanmu".




Photo credit : id.hrhwalls.com

4 comments:

  1. Seperangkat alat solat emang lebih nyata dari sekedar coklat yaaa.. Hehe
    .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihii.. iya teh. Bener banget ituu :)

      Delete
  2. Cinta selalu hadir, kapan saja dan dimana saja Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Wid... bagi org yang "me"(n)cintai mungkin seperti itu, tapi bagi orang yang "di"cintai, mungkin butuh "sedikit" waktu ^^'

      Delete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email