Wednesday, 10 May 2017

SI JAGOAN KAMPUNG


Sesaat membaca tantangan untuk menuliskan kenangan dimasa kecil yang paling membekas di ingatan oleh Mbak Nia dan Mbak Anjar, tiba2 ingat satu kejadian yang membuat bermacam perasaanku campur aduk dibuatnya :)

Lahir ditengah-tengah keluarga "besar" dengan 4 orang saudara, membuatku sangat bersyukur. Karena suasana rumah yang selalu hangat dan juga ramai tentunya. Hihihi.

Diantara keempat kakakku, jarak yang paling jauh usianya adalah aku. Yaitu sekitar 13 tahun dengan kakak sulungku dan 7 tahun dengan kakak sebelumku. Lainnya cuman selisih 2-3 tahun. Itulah sebabnya, aku sering dijadikan "bahan becandaan" oleh kakakku. Dari yang dibilang kalo sebenarnya aku adalah anak temuan karena sosokku yang memang paling berbeda sendiri. Dari postur tubuh yang paling kecil sampai warna kulit yang paling hitam langsat binti eksotis ini. *halah.
Pun juga sebagai bahan becandaan kalau aku ini anak koretan, atau kalo bahasa film kekiniannya sih "anak yang tak dirindukan". *apaseeeh?*. 
Dulu pertama kali di becandain gitu, aku bisa nangis sejadi-jadinya. Tapi lama - kelamaan aku merasa biasa saja. Karena kata Bapakku, diantara keempatnya aku termasuk anak yang menonjol dan berprestasi. *ini beneran kata Bapakku lo ya." Karena aku sering masuk ranking dan sering jadi perwakilan sekolah untuk lomba baca puisi, cerdas cermat agama dan MTQ. *Kasih oplosan, eh applause duoooonk*.

Dan karena usiaku yang terpaut jauh dan tidak punya adik sendiri. Otomatis, aku lebih suka bermain dengan anak anak tetangga. Itupun mainku dengan anak2 yang lebih kecil. Secara tidak ada yang seumuran.

Sebagai anak yang paling besar, secara tidak sadar, terkadang aku tidak bisa mengalah. Alias menangan kalo org jawa bilang. Hahaha. Setiap hari aku yang akan menentukan waktu untuk mengumpulkan teman untuk bermain di rumah salah satu dari kami. Dengan siulan atau tepukan sebagai kode-nya. *nahlo. uda mirip preman lom sih?*

Kalo tidak ingat waktu, kami bisa main dari siang (bangun tidur) sampai sore. Ah, senang sekali masih bisa bebas bermain dan berlarian di jalanan, karena jaman dulu masih jarang motor bersliweran.

Karena aku yang paling besar, acapkali aku dipanggil bu Bos atau NdanGeng (Komandan genk) sama teman2. Apabila ada anak dari kampug lain yang menakali salah satu dari kami, maka aku yang akan maju duluan. Pun jika ada salah satu teman dari geng kami yang nakal, maka aku yang akan ngomporin mereka untuk tidak lagi berteman. *amppuuunnn. dosa ku banyak banget gak sih*. Maka jangan ditanya, sudah berapa kali aku dikurung Bapak di kamar mandi, kalau ketauan sudah nakalin anak orang. (Nakalin ini jaman aku dulu, engga seekstrim sekarang. Gak sampai gontok2an, paling pol cuman engga diajak mainan bareng lagi untuk seberapa waktu). Dan itu juga ga bakal lebih dari 3 hari. Maklum, gini2 juga aku kan anak shalihah yang patuh sama nasihat bu uztad untuk tidak marahan lebih dari 3 hari. *Salim*.

Hingga suatu pagi di hari minggu, seperti biasa aku merencanakan untuk jalan pagi bersama teman2.

Kali ini bukan lagi di area sekitar simpang lima, tempat paling dekat dari komplek perumahan kami.  Tapi sampai ke suatu tempat bernama Kuripan, daerah dimana adalah tempat madrasahku kalau sore hari. Jaraknya sekitar 4km kalo dari rumah.

Aku lupa start dan finish tepatnya jam berapa. Tapi yang jelas, bagi anak2 kecil semasa kami, perjalanan ini menghabiskan waktu dari setelah subuh sampai mau dzuhur.

Kami sempat mampir di rumah budhe untuk minta makan karena kelaparan dan juga kelelahan. Oleh budhe, sebelum pulang, kami di beri uang untuk naik delman sehingga kami tidak perlu lagi untuk berjalan. Yesss..

Ketika kami sampai di ujung gang, terlihat banyak kerumunan. Dan itu adalah wajah orang tua-orang tua yang cemas menunggu kedatangan kami.

Begitu turun dari delman, masing2 dari kami langsung mendapatkan pelukan dan kecupan serta juga rentetan pertanyaan.

Bak jagoan kampung yang kalah perang, akupun berjalan mengikuti langkah ayahku dengan menunduk. Antara perasaan malu dan bersalah menjadi satu.

Malu karna sudah "menghilang"kan teman2 sekampungku dan perasaan bersalah karena aku yang sudah mengajak mereka smua tanpa dosa.

Tapi ada yang berbeda, kali ini aku tidak di kurung di dalam kamar mandi. Aku sempat heran, namun justru itulah yang akhirnya membuatku tersadar untuk "lebih tau diri".

Ini kisahku. Mana kisah kalian? Cerita juga donk di komen. Siapa tau ternyata kita seumuran atau malah tetanggaan :)









23 comments:

  1. Waduh mbak rahma ternyata jago kandang di kampugnya ya 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk itu dulu kok mba vit. waktu masih gaholnya sama si kabayan dan si pitung :)

      Delete
  2. Waduhh buk bos... Jangan lupa dibalikin yaa anak2nya.. Xixixi

    ReplyDelete
  3. (((menghilangkan))) hahaa.... deg degan seru gimana gitu ya pastinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bgg cari diksi yang pas. moso meh ta tulis "melenyapkan" mba? apa kata duniaaa?? iyabdeg2an mba, wong masiho hidup. nekhidup tp ga deg2an itu mlh bahaya. *apaseeeh?

      Delete
  4. Asyik ya mbak bisa jadi pimpinan geng anak2 sekampung, biarpun pada akhirnya merasa bersalah tapi pasti puas ya :)

    Saya dulu juga biasa main dari pulang sekolah sampai sore mbak. Kalau bapak belum nyusul sambil bawa kayu saya belum mau pulang. Bahkan kadang sampai umpet2an sama bapak, kalau bapak cari saya dari arah timur saya berlari pulang kearah barat jadi nggak papasan sama bapak hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hwakakakakaaa... hooh mb. yen ak sbenre denger suara bapak manggil aja sudah takut bgt sih:) tp kalo oyak2an gt juga pernah, ngendap2 masuk rumahnya biar ga konangan bolos tidur siang demi bermain :)

      Delete
  5. Ya Allah, Mbak, ternyata dirimu itu preman??? Wkwkwkwkw..
    Nggak nyangka ya Mbak e punya pengalaman gokil kayak gini. Kalau sekarang jadi preman lagi gimana? Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, ga kliatan y mba ika. untung gokilku tertutpi oleh wajahku yg kalem dan pemalu ini ya mba ika. wkwkwk. skg mah uda tobat. jadi preman di hatimu aja piye mba ikaaa? *ehhhh

      Delete
  6. Hihihi, seru ya petualangnnya. Biasana dikurung jadi nggaklah yang bikin kita jadi mikir ya Mbak. Ah jadi inget anakku naik tossa pas di mbahnya dari pagi sampai sore. Perutku sampai mules saking paniknya. Ternyata dia muterin Pati, huhuhu, pulang2 bukan anakku yg kumarahin. TApi bapak2 yang punya tosaa mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk kita yg panik.sedang anaknya pasti cool aja ya mba. baginya dpt pengalaman baru. emaknya berasa dpt pikiran baru. hahahaaaa...palagi jaman skg mba, emg paling gmpg kepikiran mah kalo anak main jauh dikit dari rumah. ak jg seringe gt soalnya

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  7. Hahaha.. ndanGeng? Lucu banget panggilanny, salim dulu ah..

    ReplyDelete
  8. Waaah...salim dulu ah sama Bu Bos..hehe. Tapi salut mbak..berarti jiwa pemimpin sdh ada dr kecil ya.

    ReplyDelete
  9. Aku pernah dicariin sama ibuku karena main sampai ke desa sebelah, terus pergi ke tengah kota sendiri karena mupeng liat karnaval, dan nunggu bapak ibu kelamaan. Dan itu terjadi pas aku TK. Ee la sekarang kok anakku nurunin jadi petualang, aku ngomel2.. Hihi. La iya lah ya... Sekarang serem jamannya :D

    ReplyDelete
  10. oalaah mbak aq pernah juga habis sahur tapi deket2 aja ga dari manyaran sampe kalibanteng-bandara aja...

    ReplyDelete
  11. Seru mb kisah masa kecilnya, kadang sama sama satu keturunan juga bedo bedo yaa mba, tapi ku yakini setiap anak punya kelebihan dan kekurangan masing masing yaa :)

    ReplyDelete
  12. takuuuut kalo ketemu mbak rahma hahaha

    ReplyDelete
  13. ndanGeng..kulo nderek langkung njig.. *salim*

    ReplyDelete
  14. hormat pada NdanGeng graaakk... :)) sangar juga jaman cilikanmu mba

    ReplyDelete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email