Thursday, 20 July 2017

IBU TERBURUK SEDUNIA


Ini mungkin bukan kali pertama, kedua ataupun ketiga. Namun sudah lebih dari itu. Aku bersujud dan memohon agar anak yg ada dalam kandunganku ini adalah perempuan!
Bukan tanpa alasan keinginanku ini. Semua hanya satu hal. Aku ingin menyenangkan hati suamiku. Setelah aku menghadirkan tangis dihatinya di kehamilanku sebelumnya. Empat tahun yang lalu. Aku ingin sekali menghiaskan sebuah senyuman yg selalu aku tunggu tersungging di bibirnya. Bukan lagi hujan air mata.
Terlebih lagi hasil USG saat itu menunjukkan bahwa janin yg ada di perutku ini belum mau menampakkan jenis kelaminnya.
Ahh, ibu mana yg ta berbesar hati menyimpan doa dan keinginan itu jauh dilubuk hatinya yg terdalam.

Akhirnya hari itu tiba. Sayangnya, jadwal sesar dari dokter terpaksa kuundurkan beberapa hari karena suamiku ada tugas yang mengharuskannya ke luarkota beberapa hari. Dan begitu tugasny selesai, bergegas kami mendaftarkan diri ke sebuah RS swasta di kota besar terdekat dari daerah kami.

Operasi sesar akan dilaksanakan di pagi hari. Jadi masih ada semalam bersama dengan janin di perutku. Tapi aneh. Malam itu dia sangat diam. Hingga akhirnya ada perawat yg ingin menghitung detak jantung bayi. Beliau memegang perutku agak keras. Seperti setengah memlintir sesuatu. Sehingga tiba2 janinku seperti bergerak terus. Seperti ingin segera keluar dari perutku. Dia memukul2kan kepala ke dinding rahimku. Hingga aku merasa kesakitan di malam itu. Aku bahkan kesulitan untuk turun ke kamar kecil karena janinku terus saja bergerak memukul2kan kepala atau anggota badannya ke dinding rahimku paling bawah. Sembari berpegangan sisi2 ranjang dan juga tembok aku berjalan setapak demi setapak, takut membangunkan ibu mertua yg saat itu menjadi satu-satunya orang yg menjagaiku di RS.

Paginya tepat pukul 07.00 suster memebritahuku bahwa dokter siap melakukan operasi setengah jam lagi. Ah, kuelus perutku.
"Sebentar lagi, kita ketemu ya sayang. Mama masih berharap semoga engkau jadi bayi perempuan yg cantik bagi papa, mama dan eyang."
Aku berkata demikian diatas ranjang tepat di depan ruang operasi. Menunggu giliran pemakaian ruangan yang "mungkin" sedang di bersihkan oleh petugas RS karena waktu yg dihabiskan agak lama menurutku.
Setelah pintu2 ruang operasi itu terbuka lebar, aku segera mengucapkan doa yang aku bisa agar aku dan bayiku selamat.

Hal pertama yg dilakukan oleh tim dokter tentu saja adalah memberikan bius lokal. Sebuah suntikan dibelakang punggung bawah. Dokter yg menyuntikku memberi peringatan bahwa sebentar lagi bagian bawah tubuhku akan mati rasa. Aku hanya bilang sambil tersenyum. "Iya, dok. Ini operasi sesar ketigaku. Jadi aku sudah tahu itu."
Benar saja, sejenak kemudian kurasakan kedua kakiku seperti membesar. Namum ketika salah satu tim dokter itu membersihkan bekas sesarku dengan alkohol dan mulai membuka jahitannya satu persatu, aku bersegera menarik kakiku.

"Lho? Ada apa ibu? Ibu sudah dibius kok masih bisa bereaksi?" Kata dokter itu kaget .
"Iya dok. Saya kok masih kerasa ya?" Jawabku jujur.
"Coba sekarang ini ibu diapakan?"
"Ini jahitanku yg dulu sedang dibersihkan dan dibuka lagi to dok. Rasanya cenil2 gitu."
Tim dokter mungkin setengah kaget dan heran. Karena selanjutnya aku mendengar gumaman-gumaman kecil mereka mesti kurang jelas.

Akhirnya entahlah apa yg mereka perbuat, karna yang jelas saat itu aku merasa seperti sedang diayun dari atas bandulan dengan bunga2 warna-warni disekitar. Aku juga mendengar air terjun bergemericik entah dimana tepatnya.
Ketika menyadari bahwa aku saat ini sedang operasi, aku jadi memikirkan sebuah tempat bernama surga. Karena bunga yg sangat indah ada di samping kanan kiriku.
"Apakah benar aku sudah mati?" Pikiranku sudah sanagt kacau hingga akhirnya melayang kepada pertanyaan itu. Dan membuatku menyebut iztighfar ratusan kali. Menyadari banyak sekali dosa-dosa yang telah aku perbuat selama hidup.

Belum lama aku mencoba mengingat semua dzikir yg aku hafal di kepalaku, tiba-tiba aku merasakan ayunanku putus. Sehingga aku seperti mendengar dan merasakan sebuah dentuman keras. Seperti terjatuh dan terduduk kembali keatas tanah.
"Bu, bangun bu. Operasinya sudah selesai" teriak seseorang sembari menepuk pipiku.

Aku pun membuka mataku. Alhamdulillah. Aku masih hidup! Itu hal pertama yg aku ucapkan seingatku.
Tapi, hei! Kemana bayiku? Aku tidak mendengar tangisannya?

Suster tidak menjawab pertenyaanku ketika aku bertanya. Setelah berada di beberapa ruangan pasca operasi yg dinginnya selalu membuatku menggigil itu, aku kembali dibawa ke ruang perawatan. Aku hanya melihat ibuku dan tak ada suamiku disitu.

Aku bertanya pada ibuku. Kata ibu, adik sedang di bawa ke NICU.
"Kenapa?" Kataku menahan sendu.
"Karena adik tidak menangis. Tapi tenang saja, sudah ditangani ahlinya" kata Ibu.
"Tuhaaan, kenapa NICU lagi?" Aku sempat merutuki nasibku karena ini adalah kali kedua dari tiga kali operasi cesarku.
"Sik sabar dan kuat ya, nduk. Mari berdoa minta sama Allah semoga adek baik2 saja." Ibu mencoba menghiburku.

Tapi, dimana suamiku? Ibu melihatku yg celingukan. Seolah mengerti yg kupikirkan, beliau berkata bahwa suamiku sedang menunggui adek disana. Mana tahu dokter membutuhkan tandatangan untuk administrasinya.

Hari itu, 13 Juni 2014 kurasakan waktu begitu melambat. Waktu adzan dzuhur suamiku menelepon. Memberi kabar bahwa adik sudah ada perkembangan. Namun kemungkinannya masih 50-50.

Seandainya saat itu aku bisa bersujud. Mungkin rasanya aku sudah bersujud saat itu juga. Perasaan bersalahku menyeruak de ngan hebatnya. Andai aku tidak meminta bayiku itu perempuan?? Dan sederet penyesalan lainnya.
Namun, operasi ini tidak bisa membuatku bebas bergerak. Sejak Dzuhur tiba biusnya sudah mulai hilang. Jadi rasa panas bekas luka sayatan sedikit demi sedikit mulai menyerang.

Waktu adzan Ashar, suamiku menelpon lagi. Kali ini dia bilang harapan hidup adek tipis.
Jantung adek ada yang tidak beres. Untuk bernafaspun harus melewati selang yg terhubung di tabung-tabung oksigen.
Seluruh badanku melemas seketika. Ibu memelukku dengan setengah terisak.
Aku harus kuat katanya.

Tapi kali ini aku sudah tidak tahan. Aku menangis sejadi-jadinya. Antara sedih, marah dan perasaan bersalah menjadi satu.
"Berdoa nduk. Semoga adek bisa segera kembali ke ruang ini sama kamu" sahut ibu yang melihatku sedemikian tergugu.
"Kenapa aku harus mengalami ini lagi?" Tanya dalam batinku pilu.

Rasa kehilangan seperti kejadian jaman kelahiran filza, kakaknya empat tahun yang lalu itu tiba-tiba seperti menari-nari di pelupuk mata.

BACA JUGA : MALAIKAT BERNAMA FILZA

Masih kuingat jelas semburat kesedihan di wajah suamiku. Pun juga tangis kedua ibu dan saudara2ku yang saat itu menungguiku.
Semua seperti slide yang terus bergerak dalam memori otakku. Ingin sekali berteriak untuk menghentikannya, tapi aku masih punya malu.

Ya Allaaaaah. Allahumma arinal haqqo haqqo warzuknatz tiba a. Wa arrinal baathila baathila warzuknat tinaaba.

Jadikanlah yg baik itu baik untukku. Dan jauhkanlah yg buruk itu dariku. Jika adek masih rejekiku, aku mohon sembuhkanlah semua sakit yg dideritanya. Sehat2kanlah dia. Tapi jika adek bukan rejekiku. Aku ikhlas melepasnya.

Cuman itu doaku. Doa seorang ibu yang mungkin hanya punya sifat optimis yg sangat tipis dalam hidupnya.

Iya benar! Aku tipe orang yg terlalu pasrah. Terlalu naif juga penakut untuk menghadapi apapun. Aku lebih memilih untuk memasrahkan segala sesuatu dalam hidupku kepadaNYA. Karna itu yg selalu tertanam dari sejak aku kecil. Selalu seperti itu. Entahlah.

Sesaat setelah maghrib, suamiku menelepon lagi. Katanya adek koma. Hatiku terasa sesak mendengarnya.
Untuk kesekian kali, kulantunkan doa itu lagi lagi dan lagi. Kali ini yang aku pikir hanya keinginan untuk menggendongnya. Tapi hasil operasi semakin menunjukkan reaksinya dan tidak menungkinkanku untuk bisa pergi ke ruang NiCu untuk membesarkan hati anakku.

Tak berapa lama nada dering hpku kembali berbunyi. Suamiku berkata bahwa sudah tidak ada harapan hidup bagi adek. Dan tepat ketika suara adzan isya dibelakang kudengar, tepat saat itu pula suamiku berkata :
"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Adek sudah tidak ada".
Kudengar sedikit isak tangis tertahan disana. Justru disaat aku tidak ingin menghadirkan kesedihan itu lagi di hidup suamiku.

Keinginan memiliki bayi perempuan juga dalam rangka untuk bisa menyenangkan hatinya. Untuk melengkapi kebahagiaannya.
Tapi kenapa untuk kedua kalinya aku malah menghadirkan tangis itu lagi?

Sejak suamiku menutup telponnya itulah segala sesal berkecamuk dalam pikiran dan hatiku.
Sejuta pengandaian seperti meminta jatahnya untuk muncul disela2 sesal yg terus saja berjejal.

Seandainya tak kuundur waktu kelahirannya, seandainya aku tak mengaharapkannya jadi bayi perempuan yg manis untuk suamiku, seandainya waktu itu bukan suster itu yg memeriksaku, seandainya aku konsultasi dl dengan dokterku tidak langsung menuju ke RS itu dulu, seandainya doa yg kuucapkan bukan itu... dan seandainya2 yang lain semakin menyesakkan relung dadaku. Menyengalkan seluruh nafas yg bergemuruh karena rasa sedih, marah dan bersalah yang menyatu.

Dan membuatku senantiasa berpikir bahwa aku bukan ibu yg baik bahkan kebalikannya. Yaitu ibu yang terburuk sedunia.

Ibu yang bodoh karena memaksakan keinginannya. Yang tak bisa berpikir optimis untuk seorang bayi tak berdosanya. *hiks*

Ibu terburuk dari segala macam ibu yg baik untuk putra/putrinya. Jauh lebih buruk dari ibu2 yang meninggalkan bayinya begitu saja.

Entahlah. Kata2 itu terus terngiang bahkan sampai kepulanganku dirumah. Sakit pasca operasi kurasakan tiga kali lebih hebat rasanya dari operasi-operasi sesar sebelumnya.

Bukan hanya karena bekas luka fisiknya. Namun juga karena luka psikis yang aku derita. Hingga aku butuh masa penyembuhan yang jauh lebih lama kali itu.
Luka psikis yang hingga membuatku tidak ingin bertemu dan ditemui oleh siapapun pasca pemakaman.

Bukan karena apa2, cuma karena perasaanku yg selalu berkata. Bahwa akulah ibu terburuk sedunia!

BACA JUGA : HUZZI FIRDAUS AL HARITS








6 comments:

  1. Replies
    1. Billion hugs back for you... thanks

      Delete
  2. Ini kisah nyata, mbak? Yang tabah yaa mbak.. Seburuk apapun kita melihat kenyataan, tp itulah yg terbaik menurut Allah. Keep strong, mbak :)

    Saya bhkn belum pernah merasakan mengandung, tp yakin suatu saat Allah akan mengizinkan sy merasakannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Aamiin. Doa terbaik untukmu segera diberi momongan yaaa

      Delete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email