Thursday, 7 September 2017

PADA SEBUAH TANYA YANG TERPENDAM JAWABNYA



Aku sudah tak ingat, untuk keberapa kalinya kau datang.
Menawarkan sejuta bahagia yg masih selalu saja kugantungkan. Hingga akhirnya, disuatu senja kaupun bertanya :

"Aura, mana yang kamu pilih? Menjadi setangkai bunga yang bersinar indah berada dalam pot keemasan. Atau menjadi setangkai bunga yang tumbuh liar di perkarangan?"

Aku mengernyitkan kening. "Pertanyaan aneh" batinku. Tapi seperti mengaca dengan dua perumpaan itu, maka aku memilih jawaban yang kedua.

Dan tanpa kumengerti, itu sama artinya dengan kepergianmu dari sisiku dengan tiba-tiba.
Beranjak untuk tak lagi hadir di kehidupanku seperti biasanya. Kenapa? Sebegitu pentingkah jawabanku berpengaruh di hidupmu?

Ah, andai kau tanya alasanku saat itu.
Aku pasti dengan gamblangnya akan menceritakannya kepadamu.

Menjadi setangkai bunga cantik di pot keemasan yang indah dipandang. Siapa yg tidak mau? Menjadi pujaan setiap mata yang bertandang. Tak hanya menghabiskan waktu sekerjap sekerlingan. Tapi berulang2?

Siapa yang tak mau menjadi bunga yg diistimewakan? Disirami tepat di setiap waktu dengan penuh kasih sayang? Dipamerkan dan dibanggakan ketika sedang bermekaran?
Siapa juga yg tak inginkan tumbuh dengan cantik karena tangan2 yg telaten memberikan perawatan?

Tapi tahukah kamu? Mengapa menjadi bunga indah dalam pot tak kujadikan pilihan. Karena sejujurnya aku tidak suka dikekang. Aku ingin melihat banyak hal yg lebih indah diluar sana yang bisa aku dapatkan. Aku ingin menjadi bunga yg tumbuh apa adanya di perkarangan. Yang tetap berusaha hidup dengan caraku sendiri bukan yg oranglain inginkan. Tapi kupastikan kukan usahakan yg terbaik agar bisa bermekaran, jauh lebih indah dari bunga yg ada di pot keemasan.

Dan asal kau tau satu hal, aku ingin jadi liar dipekarangan. Karna aku tau, aku akan menemukan seseorang yg akan membuatku jadi indah dengan ketulusan. Bukan dengan topeng kemunafikan.

Dan kamu tahu? itu bisa jadi adalah kamu yang aku harapkan. Ketika pada akhirnya, di ujung pertemuan aku mulai menemukan kenyamanan.

Namun sayang, engkau menghilang sebelum mendengar semua pikiran yg hendak kuutarakan. Engkau pergi sebelum aku mengatakan semua alasan. Jawaban dibalik pilihan.

Ibarat sebuah bunga, aku pun layu sebelum akhirnya berguguran.

Dan dalam lubuk hatiku yang terdalam aku selalu ingin bilang "tak maukah lagi kau kembali datang dan memberiku kesempatan?"




07.09.17

12 comments:

  1. Berbakat dalam bikin novel fiksi ini mah

    ReplyDelete
  2. Mendayu-dayu inih tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk..kek pepatah aja mba wind
      sekali mendayu dua tiga pulau terlampui...

      Delete
  3. Replies
    1. Hihihiii... melow guslaw ya mba wati ^^

      Delete
  4. Replies
    1. Lhah...uda kaya puisi ya mba ade... btw gpp baper asal ga bikin laper ya

      Delete
  5. so sweet mbak ...jadi meleleh nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hee... meleleh kek lilin aja nih mba pranaaaaa... aamiin. Mg2 beneran sweet ah.. biar matching sama umur. Sweet sepentin yaks...

      Delete
    2. Aiiih co cweet, aku paling gabisa bikin kata2 indah kaya gini 😁

      Delete
    3. Ini belum ada apa2nya dibandingkan mak iritsss... ngefans dah ma mba rahmiiii

      Delete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email