Tuesday, 28 June 2016

PRESTASI PERTAMAKU BERAWAL DI MASJID JABALUL KHOIR

20:51 7 Comments


Aku masih kelas satu SD saat itu ketika masjid yang terletak dikawasan Simpang Lima, sekitar 500 meter dari rumahku mengadakan lomba membaca Al-qur'an  (Tartil Qur’an). Lomba itu diadakan dalam rangka menyambut malam Nuzulul Qur'an. Berbekal ajaran Bapakku tiap malam, aku meminta kakakku untuk mendaftarkan lomba itu. Banyak teman sebaya kakakku yang mencibir dan meremehkanku. Semua itu sempat meruntuhkan percaya diriku. Tapi kata kakakku, "Dicoba saja. Siapa tahu menang".

Akhirnya, hari itu pun tiba. Hampir separuh lebih masjid dipenuhi anak yang ingin berlomba. Dan dari semuanya, tak ada yang sekecil aku. Kebanyakan seumuran kakakku yang saat itu kelas 1 SMP. Disamping perawakan badanku yang emang mungil, umurku juga masih sangat muda, yaitu 6,5 tahun. Untung panitia memperbolehkan semua usia untuk berpartisipasi lomba.
Tanpa dinyana, ketika diumumkan akulah juara kesatu-nya. Wow, rasanya senang sekali. Karena itu pertama kalinya aku ikut lomba dan menang.

Pada malam Nuzulul Qur'an namaku di panggil oleh panitia lomba untuk maju keatas mimbar di depan seluruh jama'ah tarawih malam itu. Selain mendapatkan hadiah berupa satu pak buku tulis, pensil dan peralatan menulis lainnya, aku juga berkesempatan untuk bersalaman dengan Bapak Bupati Grobogan secara langsung. Itulah prestasi pertama dalam hidupku yang bermula di Masjid Jabalul Khoir.


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid" (https://theordinarytrainer.wordpress.com/2016/06/01/lomba-menulis-1001-kisah-masjid/)

Word count : 197
 .

Thursday, 9 June 2016

NYADRAN, RITUAL YANG MENGIRIS HATI

18:42 13 Comments



Hari minggu tanggal 5 Juni kemarin atau satu hari sebelum menjalankan ibadah puasa ramadhan. Kami (aku dan suamiku) nyadran ke makam kedua anak kami. Nyadran adalah ritual yang dilakukan dengan mengunjungi makam sanak saudara/kerabat yang sudah meninggal. Adapun yang dilakukan disana adalah mendoakan sang arwah dan menaburkan bunga diatas makamnya. Ritual ini biasanya dilaksanakan hari kamis/jum’at. Atau hari-hari menjelang puasa Ramadhan, seperti saat ini.

***
Makam begitu ramai ketika kami berdua datang. Nampak berbagai macam orang yang mengunjungi makam keluarga mereka. Meski mereka orang yang berbeda, namun roman muka mereka semua sama. Sama-sama menyimpan guratan kesedihan yang mendalam.

Setelah memarkirkan motor, aku dan suamiku beranjak menuju makam anak-anak kami. Letaknya berdekatan satu sama lain. Ada perasaan yang begitu perih begitu melihat kedua gundukan itu disana.  Kami pun bergegas membersihkan sekitar makam.  Ada sebuah nama yang terpampang di masing-masing patok. Lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematian mereka. Filza Liyana lahir tanggal 28 Oktober 2010 dan meninggal tanggal 15 Mei 2011. Sedangkan patok satunya bertuliskan nama adiknya, Huzzi  Firdaus Al Harits. Lahir pada tanggal 13 Juli 2014 dan meninggal ditanggal yang sama.

Begitu selesai membersihkan dedaunan kering diatas makam mereka berdua, aku menyodorkan buku tahlil kepada suamiku, agar beliau memimpin do’a. Aku menundukkan kepala agar air mataku tertahan. Tapi untuk kesekian kalinya (dan mungkin selamanya) akan tetap sama. Buliran itu takan pernah bisa dicegah untuk tak keluar dari muaranya. Ah, mataku berkeliling. Tampak semua orang melakukan hal yang sama. Bahkan ada yang terisak meninggalkan suara. Akupun terhanyut. Kubiarkan air mata itu jatuh dan terus menderas seiring doa yg ku lagukan keras, dalam hatiku.

Aku semakin tak sanggup menahan isak ketika menaburkan bunga. Memetik kelopak demi kelopak untuk kemudian menghamburkannya diatas makam. Ada berjuta kenangan disana.  Dari detik-detik kelahiran mereka, sampai hari-hari terindah dalam hidupku ketika filza ada. Sedang Huzzi, ada jutaan rasa bersalah yang selalu mengusik dan menyeruak untuk hadir  disetiap sudut hati yang paling dalam. Rasa bersalah karena belum sempat mengecupnya. Mengelusnya. Memeluknya, bahkan untuk sekedar melihat sosoknya. Aku hanya punya 2buah foto dan sebuah video ketika dia berada di NICU untuk mendapatkan oksigen lewat selang sebagai kenang-kenangan. Berjuta sesal itu tiba-tiba bermunculan. Sesal ketika hari kelahirannya yang kuundurkan, sesal karena aku yang sempat berharap agar dia berjenis perempuan dan sesal sesal sesal yang saling unjuk diri dan berjejal dikepala. Ah rasanya kalo aku diijinkan untuk sejenak memeluknya, aku hanya ingin berucap maaf maaf dan maaaffffffff yang tiada terkira. Tapi kusadari waktu takan pernah kembali. Oleh karenanya, aku yang selalu berderai melihat makam huzzi. (Semoga kelak, jika aku dipertemukan kembali, dia akan memelukku dan bersedia tidur dipangkuanku. Mengijinkanku membelainya, memangku dan memeluknya erat. Semoga.)

Belum selesai air mata ini menetes, kudengar seorang ibu yang sedang kesal dan setengah mengumpat. Ada bebrapa anak kecil dan beberapa orang dewasa yang mengerumuninya. Mereka berebut untuk meminta uang kepada sang ibu tersebut. Hatiku kembali tergelitik. Ada seorang anak kecil yang umurnya sekitar dua tahun diatas filza ikutan merengek untuk mendapatkan uang seperti orang-orang disana. Sedangkan orang dewasa  disebelahnya tampak bertato hampir disluruh tangannya.
Ingatanku melayang pada jaman dulu. Duluuu sekali ketika aku masih kecil dan diajak oleh ibu untuk nyadran ke makam eyang buyutku. Sang penjaga adalah seorang bapak renta dengan baju koko lusuhnya. Tampak membungkuk ketika kami menyodorkan uang sebagai ucapan terimakasih telah menjaga makam. Tak hanya menerima uang, beliau bahkan mendoakan kami agar ikhlas dan juga tambah rejekinya. Bukan seorang dewasa bertato atau bahkan anak-anak dibawah umur yang seharusnya tempat bermainnya bukan di area kuburan. Bukan juga saling berkeroyok untuk memeperebutkan uang. Bukan mengumpat ketika uang yang diberikan tidak sesuai keinginan, tapi mendoakan. Bukan dengan pakaian sobek-sobek ala preman, tapi baju koko atau at least baju yang sopan. Benar-benar fakta berbalikan yang membuat miris juga giris.

Sentuhan tangan suamiku membuyarkan semua kenangan. “Waktu untuk pulang” isyaratnya dengan menjentikkan salah satu jarinya di atas jam tangan. Aku beranjak berdiri setelah sebelumnya menempelkan jari dibibir dan mengecupkannya diatas kedua patok bergantian.
“Selamat jalan, Nak.” Ujarku pelan. “Doakan Mamah Papah dan saudara2mu kelak bisa menjemput kalian digerbang yang sudah Tuhan tentukan,ya. Sambut kami disana dengan pelukan. Mamah rindu dan sayang kalian.”

Kamipun bergegas pulang. Berbeda dengan sang ibu tadi, tak tampak anak kecil dan orang dewasa bertatoan menyambangi.  Hanya seorang bapak yang sudah agak tua meminta “jatah”nya. Setelah mengulurkan uang dan bapak itu membalikkan badan, aku mencoba melihat sekitar. Menangkap semua dalam memori ingatan. Tentang semua kenangan juga semua hal yang berhasil mengiris perih hatiku  tadi. Disini.


Purwodadi, 10 Juni 2016


Wednesday, 8 June 2016

MALAM JUM'AT KETIGA

21:48 0 Comments

Malam jumat ini,,,adalah malam jumat ke3 yang kulalui, tanpa putri kecilku...... yup, 3mingguan yg lalu, aku kehilangan putri kecilku.FILZA..Tuhan lebih menyayangiNYA,sehingga meletakkan tempat paling teindah di sisi NYA (setidaknya itu menurutku),seperti kata seorang pelayat yang senantiasa kuingat "mengingat umurnya yg masih 6,5 bulan,maka belum ada sedikitpun dosa yang telah dibuatnya,,jadi surga,adalah tempatnya" .
Dan seperti janjiku,  untuk setahun ini, sebisa mungkin aku akan mengiriminya QS.YASIN yang kukhususkan padanya. Sebenarnya bukan dengan alasan apa-apa. Cuman,itu adalah surat dalam Alquran yang paling disukainya. Aku mengingatnya,bagaimana ia akan sibuk mencari suara lafadz ayat2 dari surat tersebut, ketika aku mengumandangkannya lewat music player di hapeku.
Kemudian,dia akan mendengarkannya dengan seksama,seolah2 mengerti apa arti yang terkandung didalamnya. Dia akan berhenti sejenak dari ocehan, rintihan,bahkan tangisan ketika ayat-ayat itu dikumandangkan.
Bahkan malam sebelum dia meninggal, dia masih sempat menghentikan tangisan karena panas yang dirasakan ditubuhnya. Dia hentikan tangisnya dan mencoba mendengar lafadz2nya. Sampai2,ibu yang ada disebelah kami, mendekatinya dan tak percaya.
Pernah juga, suatu sore menjelang malam,aku yang telah lumayan menghapalnya,mencoba membisikkan di telinganya satu demi satu ayatnya suatu ketika, Filza..,memiringkan badannya, kemudian memandangku. Tiba2, dia tersenyum (satu hal yang jarang dilakukannya).Subhanallah...dia cantik sekali,ketika tersenyum. Dia tersenyum,,dan tertidur,sebelum aku sempat menyelesaikan ayat-ayatku.

Dan ini,,,adalah malam jum'at ketiga, Atau hari ke-19 sepeninggalnya, Dan aku.... masih saja menitikkan airmata,ketika membacanya. Karena seperti biasa, wajahnya selalu ada. Senyumnya, seperti tertera dari lembaran alquran yang kubuka. Meski ibuku selalu bilang kalau itu tidak boleh kulakukan, tapi aku benar2 masih belum bisa mencegah bulir2 itu untuk tak jatuh dari tempatnya. Hmmmh,,maaafkan mama ya nak. Semoga kamu tenang di surga. Sun sayang slalu dari mama...........juga papa....

(repost dari rahma21.blogspot.com)

BELAJAR TENTANG CINTA 1

21:39 0 Comments




Melihat sepasang kakek dan nenek yang bergandengan tangan dihadapanku tadi pagi,

mengingatkanku pada satu kejadian dimana, .........



Suatu hari di bulan Februari Pa (ayahku: sebut saja begitu) terbaring di sebuah Rumah Sakit swasta di Semarang,karena penyakitnya.
Dan,
Pada suatu malam, Pa demam tinggi sekali, hingga membuatnya mengigau berkali kali.
Dari semua hal yang ada di pikirannnya, 
hingga penikahanku beberapa bulan yang lalu,



Pa begitu mengkhawatirkan anak2nya, hingga membuatnya menitikkan air mata.



Aku melihat Ma (ibuku: sebut saja begitu) pun tak kuasa meneteskan kristal beningnya,
Bliau berdiri di sisi ranjang Pa,
Yang karena menahan isaknya,
Tak mampu keluarkan kata-kata



Namun, ada satu hal bijak yang dilakukannya...



Diraihnya tangan Pa sembari mengelus peranakan rambut di dahi Pa...



Kulihat Pa merapatkan genggaman tangan Ma, 
tersenyum
dan perlahan mulai memejamkan matanya...



Ada yang bergejolak di hatiku saat itu,
karena, 
Ada yang kutahu sekarang!



Gak ada perasaan yang lebih bahagia,
ketika kamu tahu dan merasakan kalau kamu dicintai,
oleh seseorang
yang dengan setianya mendampingimu 
Hingga di penghujung usia,

yang tak kau tahu kapan ending-nya.


Mungkin kamu gak kan merasakannya sekarang,,
Namun, semakin usiamu berlanjut,
Kamu kan menyadari,
Tak ada yang lebih berharga,
dari sgala perasaan cinta.



Nov 8th,2009
Rahma_mocca@yahoo.com




--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



With luv,
r.a.h.m.a


PS: to Pa n Ma...
Thanks for d'Love I've learnt..
Semoga cerita kalian ini, bisa memberikan inspirasi kepada semua orang yang mempunyai "cinta" di hatinya...

Luvya!




BELAJAR TENTANG CINTA 2

21:26 0 Comments


Aku punya seorang murid keturunan Cina. Anaknya kecil, putih (ya iyalah), sipit (^^), dan satu yang selalu mengusik rasa gemasku adalah ke'belum-bisaan'nya bilang "r". alias cedal. Dia masih kelas satu esde. Jadi ya,wajar aja.
Suatu hari,ketika seperti biasanya dia berangkat les, tiba2 dia menghentikan gerakku yang hendak meraih buku catatannya.
"sebental mba lahma..." katanya. Sedikit heran,kuikuti aja perintahnya..
Tiba2 dia mengeluarkan hape dari tasnya, sebelum kemudian berkata : "Mba lahma aku boleh es em es papahku dulu gak?"
"Iya deh"kataku setengah penasaran dengan apa yang akan ditulisnya.
Jarinya yang mungil mulai tampak memainkan tuts hape di tangannya.
Sedikit mengintip kulihat apa yang coba ditulisnya, yang ternyata isinya : "Papah,udah sampai mana? hati hati dijalan ya pah"
Ups, agak merinding juga. Ntah mengapa, rasanya kata2 itu,tak pernah kunyana akan keluar dari dari anak sekecil dia (karena yang dibenakku, kemungkinannya adalah dia akan meminta sesuatu seperti mainan untuk dibawakan ayahnya).
Mmmmh,ternyata aku salah. Tidak untuk muridku yg satu ini (setidaknya).

Tak berapa lama,dering smsnya berbunyi.. Dia menatapku (dan seperti biasanya..tersenyum manja lebih dulu dengan mata sipitnya) sebelum bilang : "he.pasti dali papahku.boleh dibuka lagi ndak mba lahma?". Aku hanya tersenyum mengangguk.
Dia membacanya dengan terbata (karena emang belum fasih betul membaca).
"pa..pah ba...ru di wa....rung makan bu kan...dli ni...ch..sa...yang mau dibung...kus...in apa..?co...ba a..dik ta...nya ma..mah dan ka..kak ma...u di.....bawa..in pa..pah apa ya sa.....yang ya..."tak lama dia mengangguk- angguk ke arahku sembari berkata "cudah mbak lama.ayo belajal.papahku udah deket og.udah mau nyampe lumah"

*ah,malunya....belajar mencintai tidak selalu harus dengan orang yg kita sayangi saja,ternyata. Anak sekecl itupun telah menyadarkanku,bagaimana dia mencintai ayahnya. Semoga,aku masih punya kesempatan berharga itu...tidak hanya untuk mengajarkan,tapi juga merasakan bagaimana anak2ku mencintai kami, ayah dan ibunya. amin.Semoga, semoga dan semoga*

August 2010



SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

Tuesday, 7 June 2016

AKU DAN KAMERA PONSEL KESAYANGANKU

21:15 27 Comments
"Hari gini gak narsis? Gak bakat jadi artis." selorohku. Itu adalah salah satu kalimat sakti ketika banyak teman yang komentar di setiap foto yang kuunggah di setiap akun media sosialku. Dari Facebook, instagram, maupun path semua full oleh foto-foto alakadarku. Hihihi. Maklumlah, meski berwajah pas-pas an gini, aku pernah bercita-cita jadi artis,loh. Mengamalkan petuah orangtua bahwa cita-cita itu harus setinggi langit (meski kayaknya maksaaa banget gitu, yach? hahahaha).

Alhamdulillah, meski tidak bisa jadi artis di dunia nyata. At least bisa sukses jadi artis yang bergentayangan di dunia maya sebagai selebgram, selebuk dan selepet (selebritis di instagram, fesbuk dan path). Bukan karena sudah tambah cantik, ayu, putih atau sexi dengan keberadaan fisikku. Tidak. Jangan percaya. Semua itu fitnah belaka. Karna yang sebenarnya aku hanyalah seorang wanita biasa yang ingin dicinta. Halah. Kalaupun aku bisa jadi lebih cantik, ayu, putih, seksi dan segudang warbiyasssaa lainnya. Tak lain dan tak bukan itu semua karena kamera ponselnya. (Terpaksa jujur dah. Demi ASUS ZENFONE 2 LASER di pelukan. ^^') 

Berbeda dengan beberapa tahun silam, dimana aku masih kecil, mungil dan hobi ngupil, kamera menjadi barang yang masih langka. Aku bisa jadi salah satu peserta dengan kategori ngumpet tercepat ketika bidikan lensa kamera itu mengarah kepadaku. Selain menyadari wajahku yang gak kamera face banget, rasanya juga jengah sekali dengan flash yang menyilaukan mata. Hitungan aba-aba 1, 2, 3 dari si pembidiknya selalu membuatku ngeper binti minder duluan. 

 Namun sejak adanya ponsel berkamera. Semua jadi biasa. Untuk gaya, tinggal mencontek di berbagai akun media sosial yang aku lihat di setiap harinya. Hihihi. (Emak-emak keceh pengen kekinian juga judulnya). Apalagi setelah mendapat hadiah berupa ASUS ZENFONE 5 dari suami tersayang. Keinginan berfoto ria menjadi semakin meraja lela. 
Dari yang selfie, grufie ataupun wefie semua dijabanin. Dari foto di tempat2 wisata, di rumah, di kasur, sampai di kamar mandipun semua dilakonin. Karna dengan kapasitas 8MP untuk kamera belakang dan 2 MP untuk kamera depannya ini, semua foto "biasa" bisa jadi terlihat begitu sempurna. 
Ada beberapa tools editor yang sudah tersedia untuk mengedit fotonya. Dari yang bisa bikin kulit lembut, pemutih, mata besar, rona, pipi tipis semua ada. Dari model punch,vintage, hitam/putih, bleach, instan, latte, biru, litho, proses x, salju, casting, lukisan, komik, beku, pointlis, sketsa maupun lukisan semua bisa. Mau di croping ataupun di beri frame yang beraneka bisa juga. Lengkap pokoknya. Tidak perlu trik khusus. Tinggal jepret, edit, upload deh. Dijamin, foto ala mpok Lela Sari berasa jadi Tamara Blezensky. Ah, senangnya. Terimakasih ASUS handphone kesayanganku. Dengan sentuhan kameramu, aku jadi semakin PD jadi seleb di akun medsosku sendiri. ^^'

Narsis ala seleb'kritis'.

Nyelfie bersama suami dan anak tercinta

Penampakan asli penulis pakai efek Rona via Asus Zenfone 5

 Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by http://www.uniekkaswarganti.com/

Thursday, 2 June 2016

LEMON TEA HANGAT DAN KUDAPAN

09:52 0 Comments
Dear suamiku, Tahukah kamu bahwa Jumat malam Sabtu adalah hari favoritku? Hari dimana aku akan selalu menantikan kedatanganmu, setelah lima hari kita terpisah jarak dan waktu. Hari dimana aku akan memakai baju favoritku. Berdandan ala kadarnya yang aku tahu. Memakai parfum hadiah darimu. Menyiapkan buah hati kita untuk ikut menyambutmu. Serta yang tak pernah lupa kusiapkan, segelas lemon tea hangat dan kudapan. Lemon tea hangat itu ibarat sebuah penantian bagiku. Karena, begitu aku mendengar kabar kepulanganmu, aku akan bersegera membuatkannya untukmu, lalu menanti dengan dua gelas lemon tea hangat di hadapan. Satu untukmu dan satu untukku sendiri. Kuminum seteguk-demi seteguk teh untukku sembari melirik jam di dinding dan berdoa agar engkau selamat sampai tujuan. Bukan hanya sekali namun bahkan bisa ratusan kali aku lakukan. Bagaikan seorang kekasih yang sedang cemas menanti pangeran berkuda putih. Sedangkan kudapan itu adalah bentuk pengabdianku padamu. Kamu tahu cuman sedikit masakan yang aku bisa. Tapi demimu, kuluangkan lima hariku tanpamu untuk belajar menyiapkan satu buah kudapan di atas meja dengan perasaan bahagia. Tak jadi begitu penting bagiku apakah kau akan menyukainya atau tidak. Yang penting aku sudah berusaha melakukan kewajibanku untuk melayanimu sepenuh hatiku, jiwa dan raga. Dan jika kudapan yang sudah kusiapkan tak kamu makan, atau karena sesuatu hal kamu tak jadi pulang, meski sedikit kecewa, aku tak apa-apa. Aku hanya tinggal mengingat bahwa malaikatNYA akan tersenyum padaku dan berdoa, agar kelak aku tetap diijinkan mendampingimu di surga. Bukankah tak ada tempat yang paling istimewa bagiku selain di hatimu dan di jannah-NYA?. Aku akan lebih tak rela jika ada bidadari di surga sana yang akan merebut hatimu dan menggantikan posisiku, jika aku tidak bisa jadi istri yang shalihah menjalankan peran. Istri yang selalu ikhlas dalam penerimaan dan pengabdian. Namun apabila suatu saat nanti tak kau temui lemon tea hangat dan kudapan ikut menyambutmu pulang. Itu bukan karena aku tak mencintaimu lagi. Lihat mataku dalam-dalam. Hanya dengan cintamu, kamu akan bisa membaca bahwa adakalanya aku merasa sangat lelah dan butuh lebih banyak pelukan. Dariku yang mencintaimu selalu. Istrimu.
rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email