Thursday, 23 February 2017

Malaikat bernama FILZA

08:03 35 Comments
Bidadari kecilku

Bagi seorang ibu, kehilangan anak adalah hal yang sangat menyedihkan. Terutama bagiku, yang bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Dari tiga kali kehamilan cesarku. Dan seperti kata sebagian penulis bahwa "Writing is healing" sepertinya sebuah ide bagus untuk aku coba menuliskan apa yang sudah sangat jauh sekali aku pendam. Siapa tahu, rasa sakit, sedih ataupun perasaan apapun yang masih acapkali muncul itu bisa aku kurangi :)

Untuk itulah dalam kesempatan kali ini, aku ingin mengisahkan kehamilan pertama yang berakhir dengan meninggalnya putri pertamaku (Alm) Filza di usianya yang ke 6,5 bulan sekaligus menjawab pertanyaan banyak orang ihwal kelahiran hingga kepergiannya itu.
                   
                                                                              ***

Pengalaman kehamilan
Umur pernikahan kami saat itu adalah 8 bulan ketika suatu hari di bulan juni 2009 aku dinyatakan hamil. Tepat beberapa minggu sebelum hari ulang tahun suamiku. Untuk itulah kertas hasil lab dari RS lah yang kujadikan hadiah ulang tahun bagi suamiku.

Tapi sayang, bulan Agustus awal, aku yang setiap hari harus melaju ke tempat kerja sejauh 36 km pulang pergi itu mengalami keguguran karena efek kecapean.

Bulan Januari  tahun berikutnya aku mengalami hamil yang kedua. Rasa bahagia kembali menyelimuti keluarga kami. Setelah penantian yang agak lama itu.
Tidak ada halangan yang berarti pada awalnya, kecuali perubahan emosi yang naik turun dan  sering tidak pernah bisa kukendalikan. Ditambah jauhnya posisi kerjaan suami, sehingga rasa sensitif itu semakin "menjadi-jadi". Maklum, hamil pertama, jadi seperti butuh perhatian khusus dan penuh. Hehe. Hingga pada akhirnya, hari ketiga di hari lebaran tahun 2010 atau usia 7 bulan kehamilanku, ada sesuatu yang "berbeda" kurasakan.

Kelapa muda dan kelengkeng kalengan
Saat itu, kami bersilaturahmi ke rumah salah seorang sanak saudara yang ada di luarkota. Sepulangnya dari sana, kami diberi buah tangan berupa beberapa gelintir kelapa muda. Kebetulan sekali, di rumah ada beberapa kelengkeng kalengan  isi dari parcel lebaran. Satu gelas es kelapa muda dengan isian kelengkeng kalengan mendarat dengan sejuknya di tenggorokan dan perutku. Tapi itu tidak beberapa lama. Karena beberapa jam kemudian, aku merasakan kram pada seluruh tulangku. Terutama perut hingga tembus bagian belakang. Aku sampai meraung-raung kesakitan. Sempat tertidur sejenak. Tapi tiba-tiba seseorang dengan pakaian hitam-hitam terlihat tengah mendorong kasurku hingga kesebuah lautan luas. Akupun berteriak dan menangis ketakutan. Aku merasa terombang-ambing sendirian ditengah lautan yang isinya cuman air itu. Aku berusaha mencari pegangan. Dan disaat itulah aku tersadar bahwa ternyata aku sedang bermimpi. Ketika terbangun, pegal itu masih saja kurasakan. Karena aku sudah tidak tahan, maka aku menungu suami pulang untuk periksa ke RS. 
Anehnya, rasa sakit itu seperti menghilang ketika aku berada di RS. Dan muncul kembali ketika aku berada di rumah. Kejadian ini berulang hingga tiga kali. Hingga pada akhirnya, di RS yang ketiga ada seorang bapak tua yang berkata kalau bisa jadi aku kena "sawan". Beliau menyarankan agar ibuku mengoleskan ampas minuman tadi ke seluruh perutku sembari membaca doa serta shalawat.
Sesampainya dirumah, ibuku menuruti anjuran Bapak tua tadi. Dan benar saja, malam itu aku tertidur tanpa keluhan sampai esok paginya.

Penasaran 
Hari berikutnya, rasa penasaran akan kondisi bayi seperti menghantui. Takut kenapa-napa pasca kejadian "sawan" yang aku alami. Akhirnya, aku mencoba untuk pergi ke dokter kandungan langgananku. Tetapi karena masih suasana lebaran. Klinik itupun masih tutup. Aku baru bisa periksa dua hari setelahnya.

Hasil USG yang mengejutkan
Akhirnya, setelah mengantri beberapa jam giliranku diperiksa datang juga. Setelah dipersilakan untuk membaringkan diri, dokterpun memulai aksinya didepan USG. Kulihat sang dokter mengernyitkan dahinya. Beliau juga mengulangi pemeriksaan hingga berulang-ulang, sebelum menarik napas dan memberitahuku ada kejadian yang janggal. 
Kata beliau, ada pembesaran kepala di janinku. Aku yang saat itu periksa sendirian rasanya lemas seketika. Dokterpun memberiku rujukan untuk tes lab berkaitan dengan TORCH di RS terdekat di kota kami, dan segera kembali ke kliniknya untuk melihat hasilnya.

Tes Lab dan hasil diagnosa dokter
Ada beberapa tes yang harus aku jalani hari itu, yaitu pengecekan untuk virus Toxoplasma, Rubella, HPV dan CMV. Aku merasa bergetar ketika menerima hasil tesnya. Berbagai macam ketakutan seolah timbul tenggelam di kepala. Aku melajukan motor dengan sangat pelan sambil berdoa semoga tidak terjadi apapun juga pada janinku. Janin yang sudah sangat kami nanti-nanti kedatangannya.

Sesampai di tempat praktek dokter, aku jadi prioritas utama untuk masuk kedalamnya (terimakasih dok!). Dokter sudah menungguku dengan cemas. Ketika membaca hasil, beliau kaget. Karena ternyata hasil lab-ku negatif semua. 

Merasa tidak bisa menangani kasus kehamilanku, beliau memberiku pilihan untuk dirujuk ke RS di kota besar terdekat dari kota kecil kami ini. Antara Solo dan Semarang. Karena kakak-kakaku kebanyakan tinggal di Solo dan mengingat suami yang masih ada jauh di luar kota sana, maka aku memutuskan untuk di rujuk ke Solo. Oleh sang dokter aku dirujuk ke seorang dokter spesialis penyakit kehamilan. 

Dua dokter sekaligus
Di Solo, aku bertemu dengan dokter yang terkenal menangani penyakit kehamilan. Dokter Sulis, sperti itulah beliau biasa di sebut ( yang sesungguhnya, nama panjangnya aku sudah lupa). Beliau tampak manggut-manggut ketika aku menyodorkan surat rujukan beserta hasil lab. 
Kata beliau, karena janin masih didalam perut, maka belum ada penanganan yang bisa dilakukan. Untuk penangannya sendiri, menunggu janin sudah besar nanti diambil cairan dalam otaknya (Hiks, denger penjelasan beliau itu, bulu kudukku langsung merinding, mataku mungkin sudah sangat berkaca-kaca, tapi airnya tak sampai jatuh. Dada dan hatiku saja yang rasanya sangaat bergemuruh). 
Karena tak ada penjelasan dan penanganan lainnya, maka aku setuju ketika kakakku menyarankan untuk mencari second opinion ke dokter kandungannya. Seorang dokter kandungan terkenal dari sebuah RS swasta terkemuka di kota Solo. Dokter Shoffin namanya (ini nama lengkapnya aku juga sudah lupa. Maafkan ya).

Di Klinik Dokter Shoffin
Kami datang ke klinik disertai hujan yang sangat deras. Menunggu kakak pertama datang untuk mengantar rasanya seperti berabad-abad lamanya. Ditambah kecemasan rasanya seperti menambah buruk keadaan.
Pun sesampainya disana, antrian panjang masih tetap harus kuhadapi. Baiklah, demi janin dikandungan apapun akan kulakukan, pikirku. 
Dokter dengan perawakan yang tinggi besar, putih ganteng dan juga ramah itu menyambut kedatangan kami dengan senyuman. Tak terlihat wajah lelah sedikitpun diwajahnya. Lagu mozart bervolume rendah begitu menenangkan sebagai kesan pertama yang kutangkap dari ruang prakteknya. 
Segera kusodorkan hasil lab yang sudah kupersiapkan. Beliau tampak tersenyum melihat hasilnya. Kata beliau tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Karena memang hasil tesnya negatif semua. Beliau memintaku untuk berbaring dan di USG. Ekspresi selanjutnya yang kulihat adalah sama seperti dokter langgananku dirumah. Kulihat beliau berulangkali mengulangi pemeriksaan alatnya disertai kernyitan dahi dan juga suara mengecap dari mulutnya. Beliau seperti keheranan melihat sesuatu yang janggal. Sebelum bertanya kenapa, beliau menyuruhku untuk duduk dan menyudahi pemeriksaannya.

Kasus yang istimewa
Dokter Shoffin menemukan bahwa ternyata memang benar ada pembesaran kepala pada bayiku. Beliau juga heran kenapa hal itu bisa terjadi pada janinku. Mengingat hasil tes lab TORCH ku negatif semua. Menurut beliau ini adalah kategori "kasus yang istimewa". Beliau berjanji untuk mendampingiku hingga hari kelahiran itu tiba. Beliau bahkan memberiku "tim khusus" berupa tiga orang dokter. Yaitu beliau sendiri, dokter spesialis bedah, dan dokter spesialis anak (yang juga seorang dosen) sebagai teman curhatku. Oleh beliau, aku disarankan untuk menemuinya sepulangnya dari klinik, setelah sebelumnya beliau menelepon dokter itu.

Teman curhat
Seorang dokter wanita yang ramah dan ayu khas solo itu merekahkan senyumnya ketika kami datang. Dokter yang sampai sekarang aku masih berusaha mengingat namanya itu tempat prakteknya tak jauh dari tempat praktek Dokter Shoffin. Beliau seorang dosen di Universitas Negeri di kota itu. Selain seorang dokter dan dosen, beliau juga mendalami psikologi. Itu sebabnya tadi sbelum pulang dokter Shoffin berkata kalau akan memberiku "teman curhat" yang nyaman. Mungkin inilah maksudnya.

Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Sebuah tempat yang bersih dan penuh mainan ini cocok banget dengan konsep ruang dokter anak sesuai spesialisasi keahliannya. 

Session pertama di dokter anak
Sang dokter mengambil sebuah buku sketch dan mulai menggambarkan sesuatu. Ternyata itu adalah sebuah otak. Beliau mengambarkan syaraf-syaraf otak in details. Setelah menhentikan kegiatan menggambarnya, beliau menatap mataku dan berkata yang intinya adalah setiap otak manusia yang normal berisikan syaraf-syaraf yang sama seperti pada gambarnya. Sedang hasil diagnosa dari surat rujukan dokter Shoffin yang tadi kuberikan padanya, dokter Shoffin bilang kalau ternyata syaraf otak janinku tidak sama. Ini  bisa terjadi karena ada pembesaran pada kepalanya. Syaraf yang seharusnya berkelok-kelok itu yang ada bentuknya lurus. Jauh berbeda dengan otak-otak janin lainnya.
Aku mulai terisak. Dadaku rasanya sesak. Kalau tidak malu, mungkin aku sudah berteriak-teriak. Seperti mengerti kesedihan yang kurasakan, beliau memegang tanganku. Aku tetap tergugu. Pundakku terus saja berguncang. Ditambah kepalaku yang berubah seperti pusaran. 

Pelukan seorang *teman*
Melihatku yang begitu terguncang, beliau merapatkan badan. Kali ini tidak lagi memegang tanganku. Tetapi justru memelukku erat. Seperti pelukan seorang "teman". Setelah agak tenang, beliau bercerita bahwa aku harus sabar dan kuat agar bisa mengahdapi kenyataan. Ada yang sedikit menyentuh ketika beliau bilang bahwa aku masih beruntung. Karena bagaimanapun kondisi bayiku kelak, aku masih bisa merasakan kehadiran buah hati dari rahimku sendiri. Karena ternyata, sang dokter yang cantik itu sampai umur pernikahannya yang sekarang itu tidak pernah bisa hamil. Dan beliau tahu itu, sehingga dia memilih untuk memperdalam ilmunya salah satunya dengan belajar psikologi. Beliau bahkan menasihatiku untuk tidak putus asa. Karena apapun yang sudah diciptakanNYA tak ada yang sia-sia. Beliau memberi contoh beberapa anak dengan kondisi yang akan dimiliki anakku kelak yang telah berhasil menjadi anak berkebutuhan khusus yang hebat dimata masyarakat, juga dunia. Kata beliau, anak khusus ini biasanya diberi kelebihan yang luar biasa di bidang lainnya.
Ada banyak lagi nasihat yang diutarakannya namun aku sudah tidak begitu perduli lagi. Kata-kata dari hasil diagnosanya-lah yang masih snantiasa terngiang disepanjang perjalanan pulang kami dari tempat prakteknya.

Kata-kata penghiburan dari kedua kakakku yang mengantar seperti tidak ada artinya. Yang aku tahu aku sediiiiih. Sangat sedddiih. Titik.

Putus asa
Sesampainya dirumah kakakku (sambil menunggu penanganan, sementara waktu aku mengambil cuti dan domisili dirumah kakakku) aku mengunci diri dikamar dan menangis sejadi-jadinya. 
Yang aku rasakan saat itu adalah "Kenapa Tuhan tidak adil?". Kenapa orang-orang yang dulu pacarannya aneh-aneh itu bisa baik-baik saja hingga melahirkan? Sedang aku yang berusaha menjaga diri dengan baik, kenapa harus menghadapi takdir buruk ini? Kenapa orang-orang yang biasa saja ibadahnya hidupnya seperti tidak pernah bermasalah. Bahkan jauh lebih bahagia? Berawal dari rentetan tanya "kenapa" itulah yang pada akhirnya membuatku  merasa begitu marah pada Tuhan. Marah pada diriku sendiri. Marah pada semua hal yang ada pada diriku. Juga membenci hidupku. Berlari sejauh mungkin lalu terjun dari atas pegunungan yang tinggi atau bahkan menenggelamkan diri kedalam lautan adalah hal yang paling sangat ingin aku lakukan saat itu. Mungkin sebagai salah satu bentuk keputus asaanku menghadapi semua ini. Hingga logikaku seperti tidak bisa berjalan dengan benar.

Kata yang menenangkan dan petuah yang bijak
"Itulah yang namanya takdir. Sejauh apapun kamu berlari, atau sedalam apapun kamu menenggelamkan diri, kamu tidak akan bisa merubah keadaan. Kalau itu takdirmu, dia tidak akan pergi kemana-mana. Akan tetap jadi milikmu" ucap suamiku ketika aku mengungkapkan segenap perasaan putus asaku. 
"Apapun itu, selama kita hadapi berdua pasti akan baik-baik saja" tambahnya.  
Sumpah! Kata-kata itu begitu sangat menenangkan. Jauh lebih menenangkan dari jutaan es krim yang selalu aku harapkan dia kirimkan di setiap hari-hari "sensitif" ku. Hari dimana isinya adalah kecemasan, ketakutan juga kekhawatiranku akan banyak hal (tak salah jika uji psikologku pernah menyatakan bahwa aku adalah seseorang yang memiliki rasa insecure yang tinggi. Hmmmh. Whattafact!)

Hingga disuatu sore yang cerah. Qodarullah, aku tak sengaja melihat sebuah tayangan tv lokal yang berisi sebuah tausiyah. Kalau tidak salah pembicaranya adalah seorang uztadz lokal ternama. Kata beliau : "Jangan pernah berputus dari rahmat Allah". Intinya apapun yang ditakdirkanNYA selalu ada "pesan" disebaliknya. Selalu ada mudah setelah sulit. Ada pelangi setelah hujan. Maka dari itu, jangan pernah berputus dari rahmat Allah. Kurang lebih begitulah pesannya.

Tobat!
Entah mengapa, pesan itu seperti menusuk hingga ke relung hati bagian terdalamku. Jauh melihat kedalam diriku. Tiba-tiba aku merasa sangat berdosa. Betapa sombongnya aku, ketika aku merasa bahwa aku adalah "wanita baik-baik" menurut versiku. Seketika itu juga aku menjadi seseorang yang paling banyak dosanya. Aku bodoh sekali. Terkadang tuhan memberikan cobaan bukan karena tingginya iman. Tapi juga untuk menggugurkan dosa seseorang. Aku mulai mengira-ira dan mengaca pada semua kesalahan yang "mungkin" pernah aku lakukan. Hingga pada akhirnya aku tobat. Menurutku saat itu, hal terbaik yang bisa aku lakukan adalah sholat taubat. Aku menangis sejadi-jadinya ketika menghadap Tuhan. Aku minta ampun untuk semua hal dalam sujud dan tangis yang sangat panjang. Dan berjanji untuk menyelesaikan ngajiku hingga khatam untuk sebulan. Sisa yang aku miliki sebelum menghadapi persalinan.

Tips mengurangi stress
Untuk mengurangi stress aku mulai lebih mendekatkan diri padaNYA. Hari-hariku kuisi dengan mengaji dan mengaji. Mendengarkan pengajian pada tv lokal. Dan menguraikan segala perasaan lewat facebook. Media sosial yang menurutku bisa jadi salah satu tempat curhatku (sebelum aku mengerti kalau ternyata hal itu salah!). Jadi kalau saat itu kalian merasa aku "alay" karena banyak status-status galauku, maafkan ya teman-teman. *ngaku*.
Aku membuat banyak catatan pada facebookku untuk mengurangi perasaan sedihku. Karena aku belum mengenal dunia perbloggingan saat itu. Selain catatan dalam bentuk cerita dan status, ada juga beberapa puisi yang bertebaran bebas di timelineku (sekali lagi, maafkan aku ^^).

Kedelai hitam
Berawal dari facebook, aku bergabung dengan grup Room for Children. Forum yang digawangi oleh dokter-dokter spesialis anak diseluruh Indonesia ini menjadi tongkrongan wajibku di FB untuk mencari ilmu, sebelum menghadapi my "special" child wanabe. 
Disitulah aku tiba-tiba di inbox oleh seseorang anggota dari grup tersebut. Namanya (untuk kesekian kalinya) aku lupa. Mengingat sudah 7 tahun yang lalu dan komitmenku untuk mengurangi hal-hal yang sekiranya tidak begitu penting untuk kusimpan di memori otakku, jadi soal nama aku tidak begitu mementingkan untuk menghapalkannya *ngeles*. 
Yang aku ingat, beliau cerita bahwa dia habis lahiran dengan indikasi terkena toxo di trimester pertama kehamilannya. Beliau mencoba pengobatan China dengan mengunjungi shinse. Dari shinse tersebut, beliau disarankan untuk minum susu kedelai hitam (bukan putih). Dan kata beliau, hingga kelahiran ternyata bayinya bisa normal seperti anak lainnya. Wallahu a'lam bis shawwab. Tidak ada salahnya mencoba resep berikut sebagai pendampingan ketika hamil.

Bagi yang berkenan membuat bahan dan caranya adalah sebagai berikut :
Bahan : - Kedelai hitam (kedelai untuk membuat kecap)
             - Gula batu
             - Air
             - Jahe
Cara : 
Kedelai hitam ini adalah bahan pembuatan kecap. Kedelai hitam tersebut di rendam dulu sebelum diblender. Kemudian hasil blenderan tadi diberi air sedikit-sedikit untuk diperas dan disisakan sarinya (seperti membuat santan untuk sayur), kemudian direbus. Tambahkan gula batu  sesuai selera untuk rasa manisnya dan jahe agar rasanya tidak terlalu "sengur" (jawa).

Sang pemberi resep tersebut bahkan menyatakan bersedia memberi penginapan gratis dirumahnya jika aku ingin diantar berobat shinshe ditempatnya berobat. Beliau merasa sudah terbantu dengan keberadaan shinshe tersebut, jadi sebagai ungkapan syukur karena putranya lahir normal meski kena toxo beliau berniat berbuat baik bagi ibu hamil yang sedang merasakan kecemasan seperti yang pernah dirsakannya dulu. See?! How love spreads around! Feels like God sent an angel to me. Ya, aku merasa bahwa Tuhan mulai mengirimkan malaikat-malaikat baiknya di sekitarku.  And hey, I felt i'm loved. Again!

Try to wake up
Yang selanjutnya terjadi adalah aku mulai bangkit dari segala perasaan terpuruk dan terburukku. Sang uztad benar. Aku tidak boleh berputus dari rahmat Allah. Semua hal baik atau buruk adalah bentuk rahmatNYA (kasih dan sayang NYA). Aku semakin paham bahwa hal yang kualami ini adalah bentuk nyata dari kasih sayangNYA. Kasih sayang yang membuatNYA tidak ingin jauh-jauh dariku. Agar aku selalu dekat kepadaNYA. Selalu memelukNYA pada doa-doa panjang di setiap sujudku.

Hari kelahiran Filza
Akhirnya, tepat tanggal 28 Oktober 2010 atau dua hari setelah peristiwa meletusnya Merapi, Filza Liyana anak pertama kami lahir. Lebih dari tangis bahagia, tangis kesedihan seperti menyelimuti kelahirannya. Dari semua orang yang menangis dibalik punggungku, yang ingin aku lihat hanya wajah suamiku. Aku percaya dia akan jadi satu-satunya orang yang takkan berbohong untuk menjelaskan keadaan filza padaku.
Benar saja, dengan terbata suamiku mengatakan soal kondisi Filza padaku. Juga memberitahuku bahwa anakku sedang berada di ruang NICU  untuk ditangani secara langsung oleh tim dokter yang dipimpin oleh dokter Shoffin. Hari kedua aku baru bisa menemui anakku. Karena tidak memungkinkan bagiku untuk duduk pasca cesar. Untuk itulah aku bersikeras untuk latihan duduk satu hari setelah operasi. Setelah bisa duduk agak lama, aku merajuk untuk diperbolehkan melihat buah hatiku. Aku membuat alasan ingin menemuinya karena aku ingin memberi ASI berkolostrum untuknya. 
Setelah dokter memeriksa kondisi fisik dan psikisku, akupun diijinkan untuk masuk ke NICU.
Berbekal genggaman tangan erat dari suamiku, akupun pergi ke NICU menggunakan kursi roda.

Melihat malaikat kecilku
Hal pertama yang aku lihat bayiku adalah rasa sayang dan kasihan. Aku merasa nelangsa melihat kondisi fisiknya yang berbeda. Bagiku, dia tetaplah bayiku. Bayi mungil yang sangat kunantikan kehadirannya. Aku tidak pernah membencinya. Yang kubenci hanya diriku sendiri. Kenapa aku seceroboh itu hingga akhirnya membuat bayiku terlahir tidak seperti yang lainnya. Aku menciumnya untuk pertama kalinya. Aku gendong dalam pelukan. Pelukan seorang ibu yang "mungkin" bukan ibu yang baik untuknya. Tidak pernah jadi ibu yang baik baginya *hiks* (sumpah, nangis banget waktu nulis bagian ini mengingat hal-hal buruk yang "mungkin" pernah tidak sengaja aku lakukan untuk Filza).

Pulang kerumah
Setelah berada selama 5 hari di RS, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Aku menunggu hingga satu bulan, sebelum akhirnya dokter memastikan bahwa penanganan baru bisa dilakukan ketika berat badan Filza mencapai 5 kilogram. Akupun pulang kembali ke kota asalku. Adapun proses penangannnya yang kelak akan dilakukan itu sudah sangat jauh dari nalar kami. Aku ingin yang terbaik, jadi aku mengiyakan saja anjuran dokter-dokter itu. Sedang kali ini, justru suamiku yang "lebih punya hati". Beliau tidak sanggup kalau melihat Filza yang kondisi fisiknya sedemikian rupa, masih harus di operasi ini itu dihampir seluruh bagian tubuhnya. Anak sekecil dengan kondisi selemah itu baginya itu sulit untuk di logika.
Dengan banyak pertimbangan, suamiku memintaku untuk menyetujui keputusannya untuk menerima keadaan filza bagaimanapun dan apapun yang terjadi akan kami hadapi bersama.

Bicara masa depan 
Aku sempat bimbang dengan keinginan keluarga yang ingin mengoperasi Filza dan keputusan suamiku yang ingin Filza apa adanya. Akhirnya kami berdua berbicara tentang apa yang "mungkin" akan kami hadapi kelak. Ada banyak pertimbangan yang kami miliki, termasuk perasaan keluarga kami. Aku bahkan memiliki rencana untuk menyekolahkan Filza ditempat khusus di Jogja dan menetap disana. Karna malu? Bukan. Saat itu satu-satunya yang aku pikirkan adalah bagaimana cara mengatasi perasaanku sendiri. Aku yang bakalan tidak bisa dan tidak rela mendengar "jika" ada orang yang mengejek kondisi fisik Filza. Jadi, aku harus kuat dulu. Selain itu, bagaimanapun kondisi Filza, aku ingin dia tetap dapat pendidikan dan kehidupan yang normal seperti lainnya. Kalau di kota sekecil tempat kami seseorang anak dengan kondisi seperti Filza termasuk kategori yang sangat sangat minoritas. Kalau di kota besar, meski bukan kaum mayoritas juga, tapi setidaknya ada anak yang memiliki kondisi fisik menyerupainya. Itu logikaku.

Suntik DPT
Setelah beberapa hari dirumah, hal pertama yang ingin kulakukan adalah memberi suntikan kekebalan tubuh untuk Filza. Untuk itulah, aku bermaksud mengimunisasi Filza di dokter anak andalan di kotaku. Ketika sesampainya disana, sang dokter tampak terkejut. Dengan menggeleng beliau mengisyaratkan kalau tidak mau mengimunisasi Filza. Alasannya karena ada pembesaran di kepalanya. Beliau baru mau menginunisasi Filza jika pembesaran di kepala Filza ditangani lebih dulu.
Untuk itulah beliau menyarankan untuk memeriksakan Filza ke seorang professor kenalannya di sebuah RS swasta di Semarang. Sebelum memberi rujukan, dokter ini menelpon kenalannya. Setelah membuatkan janji pertemuan, akhirnya beliau memberi tahuku hari dan jam serta memberikan rujukan untuk sang Professor yang kuketahui bernama Prof. Zainul Muttaqien. 

Apert Syndrome
Sesuai hari dan jam yang telah ditentukan, kami pun menemui Dokter di RS swasta ternama di Semarang. Sembari memegang kepala Filza, beliau memintaku bercerita tentang apa yang terjadi pada Filza. Namun, sebelum itu, beliau menebak apa-apa saja yang jadi "kekurangan" Filza. Kami sempat terperangah ketika beliau berhasil menebak tanpa kami memeberitahukannya lebih dulu.
Selanjutnya beliau menuliskan kata "APERT SYNDROME" diatas selembar kertas dan meminta suamiku untuk browsing melalui HPnya. 
Kemudian beliau menjelaskan bahwa Apert syndrome adalah sindrom langka yang bisa dialami setelah beberapa ratus ribu kelahiran bayi. Jadi setiap beberapa ratus ribu itu ada kasus seperti Filza satu. Penyebabnya? Mutasi Gen. Penyebab mutasi gen? Ilmu kedokteran manapun tak ada yang bisa menjelaskannya. Ibarat kerang yang menghasilkan mutiara, maka ketika ada satu mutiara yang hasilnya bengkok, atau cacat sedikit, maka tidak ada yang pernah tahu sebabnya. Semua adalah rahasiaNYA.
Dokter itu menyuruhku untuk bersabar. Katanya kalau dalam bahasa jawa aku adalah salah satu orang yang sedang "ketiban sampur".  
Perkara hubungan antara virus TORCH dengan kondisi Filza? "Tidak ada! Semua murni karena kuasaNYA", terang beliau dengan tegas. 

Foundation
Aku sedikit lega mendengarkan penjelasan yang bisa lebih kuterima. Sesampainya dirumah, aku iseng browsing dengan kondisi orang-orang yang terkena syndrom yang sama seperti putriku. Dan aku terkejut ketika ternyata di Amerika ada lembaga khusus yang menangani penderita Apert ini. Mereka tampak hidup dengan normal dan bahagia disana. Karena kata dokter kejadian ini beliau alami per dua tahun, maka aku browsing mencari orang terakhir yang terkena syndrome ini. 
Dan adalah seorang bayi perempuan dari philipina yang tercatat terkena syndrome ini. Bayi dari Filipina ini lah yang kemudian mendapatkan foundation di Amerika. Mereka sekeluarga akhirnya menetap di Amerika. 
Berangkat dari hal itu, aku sempat mengirimkan email ke foundation tersebut. Berharap ada seseorang disana yang membaca email dariku dan bersedia memasukkan Filza sebagai anggota kelompok mereka yang dapat penghidupan, pendidikan serta kehidupan sosial yang selayak penderita lainnya. Tentu saja bersama kami, orang tua yang sangat mencintai dan akan tetap mendampinginya. 

Hari nahas Filza
Karena sekarang penyakit Filza sudah jelas, maka untuk mencegah hal-hal yang tidak kuinginkan terjadi, aku membawa Filza ke seorang bidan dekat rumah untuk suntik DPT. Mengejar ketinggalan imunisasi-imunisasi yang seharusnya sudah diterimanya dari satu bulan sejak kelahirannya.
Malamnya Filza mengalami demam. Kondisi yang wajar dialami bayi pasca suntik DPT. Bu bidan juga sudah memberitahuku akan hal itu. Beliau sudah memberiku obat penurun panas sebagai upaya pencegahannya.
Benar saja, malamnya Filza demam. Dan setiap malam seperti itu. Aku sempat memeriksakannya kembali ke dokter spesialis anak, namun seperti tidak ada hasilnya. Filza tetap saja demam. Namun anehnya, tiap pagi dia baik-baik saja. Kalau malam saja demamnya. Hal itu berlalu setiap malam. Aku dan ibu yang bergantian jaga. Karena Filza benar-benar tidak bisa lepas dari gendongan, jadi kami melakukannya bergantian. Bahkan pernah pada  suatu malam, kulihat ibuku pegangan gagang almari biar tidak ambruk karena saking capeknya (Thanks, Mom. You're my trully ANGEL. The best angel i've ever had). 
Hingga akhirnya kemudian kami membawanya untuk opname di RS swasta di kota kami. Tanggal 14 Mei 2011 tepat jam 07.25  pagi, Filza kami, buah hati kami, malaikat kecil kami itu menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir.

Ah, Filza. Meski aku tahu aku bukan ibu yang baik untukmu. Terlepas aku adalah ibu yang baik atau buruk menurutmu. Tapi entahlah, jauhhh disuatu hari nanti aku tetap selalu berharap bahwa kelak, kamu dan huzzi (adik filza yang juga sudah meninggal dunia) tetap mau memelukku. Menciumku. Mengijinkanku menggendong kalian satu persatu. Aamiin.


My apert syndrome baby
Ilarruhi Filza Liyana...Huzzi Firdaus Alharits... Bismillah... alfaatihah


















Sunday, 19 February 2017

Menanti datangnya cinta

06:42 4 Comments


"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu  benar-benar mencintaiku?" 
"Menikahimu". 

Itu adalah sekelumit pertanyaan yang selalu aku ajukan untuk mengalihkan keinginan Saddha untuk melamarku. Bagaimana bisa, seseorang yang baru beberapa minggu aku kenal, dengan mudahnya bilang mencintaiku? Ah, tidak tidak. Aku tidak ingin lagi terjebak pada cinta yang pernah menyakitiku. Cinta yang membuatku terluka hingga trauma.

Saddha bukanlah seseorang yang istimewa bagiku pada awalnya. Dia pendiam, cenderung sangat pendiam. Berbeda karakter sekali denganku. Tak banyak yang aku tahu ketika pertemuan pertama kami di senja itu. Juga pertemuan-pertemuan berikutnya.

Dia bukan sosok yang pernah aku bayangkan akan hadir di hidupku.  Bukan yang aku idam atau impikan. Karena lebih dari kesamaan, yang kami miliki justru hampir semuanya berkebalikan. Kesukaan, keinginan, obsesi, sudut pandang. Aaah. Kami sungguh-sungguh berbeda satu sama lain.

Tapi seperti biasa, Tuhan selalu punya kejutan. DIA hadir dalam segala hal yang bahkan bagi kita bisa jadi bukanlah suatu keniscayaan. Sama seperti hadirnya Saddha. Yang datang tepat ketika aku sedang terluka. Luka yang bagiku mungkin takan pernah ada obatnya. Luka yang wujudnya seperti slide yang berputar terus-menerus tanpa bisa kucegah datangnya. Tak hanya  di mata. Tapi juga kepala. Dia hadir disaat setiap hari bagiku adalah air mata.

"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu benar-benar mencintaiku?".
"Menikahimu". 

Dan kata-kata itu yang selanjutnya selalu bernaung di pikiranku. Meninggalkan gaung hingga raung di dalam setiap relung tubuhku.

Menorehkan sekian tanya tentang apakah aku akan bahagia? Apakah ada lagi tawaku yang lebih keras dari yg sebelumnya? Sanggupkah ia ciptakan bahagia diatas balutan luka, dengan menutup setiap luka yang sudah terlanjur menganga ?

"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu benar-benar mencintaiku?".
"Menikahimu" .
Ah, aku ini siapa? Rutukku ketika dia (untuk kesekian kalinya) menyatakan keinginannya untuk melamarku. Dia bahkan tak mengenalku sebaik orang yang ada untukku sebelumnya. 
Tapi, kedatangannya di suatu hari itu bersama kedua orangtuanya benar-benar membuktikan pernyataannya bukan sekedar omong kosong atau angin lalu.

Aku ciut melihat nyali besarnya. Beribu pertanyaan  seperti "Benarkah aku orang yg dicarinya?" sempat kembali menghujani pikiranku. Meracuni semua kata baik yang selalu berusaha diungkapkannya di sebalik sikap baiknya padaku.

Untuk itulah aku menatap lebih lama pada matanya. Mencoba mencari ketidakjujuran yang terperangkap disana. Seketika itu juga hatiku menelangsa. Karena yang kucari tidak kutemukan jua. Tak sedikitpun keraguan itu ada disetiap sudut, rona hingga binarnya.
Hingga akhirnya kutundukkan pandangan. Kuterima pinangannya. Aku menyerah. Tapi bukan kalah. Aku hanya pasrah.

Bukankah kelak, cinta itu bisa datang kapan saja?

RELATED STORY :  "Menikahlah!. Aku sudah memaafkanmu".




Photo credit : id.hrhwalls.com

Thursday, 9 February 2017

Menikahlah! Aku sudah memaafkanmu.

07:36 78 Comments

Rasanya masih pekat dalam ingatanku. Tentang kamu. Juga tentang hari itu. Hari dimana aku melihatmu di persimpangan. Aku baru akan melambaikan tangan ketika tiba-tiba seorang gadis menyambutmu dengan sebuah pelukan dari belakang.

Aku menelan lidahku. Kelu. Menahan air mata itu untuk tidak berjatuhan. Aku membalikkan badan semenit setelah kau melakukannya duluan. Menyaksikan bagaimana kau membalas rengkuhan itu dengan dekapan juga senyuman yang acapkali kurindukan.

Hatiku ngilu, merasa nyeri yang teramat dalam. Sakit itu begitu menghujam. Menyisakan isak berjam-jam kemudian. Juga sayatan luka yang terperih dan tak mudah dilupakan.

Aku tak sempat bertanya mengapa. Jeda yang kubuat agar kau teguh pada pilihan malah berbalas dengan pengkhianatan. Aku tahu kamu tahu bahwa aku bukan sebenar benarnya pergi. Aku menunggu kesungguhan hatimu untuk tetap mempertahankanku. Memberi kesempatan untukmu memantapkan pilihan. Antara aku atau impian besarmu itu.

Ah, seharusnya aku tak sedang berada disana saat itu. Tak seharusnya menunggumu ditempat biasa aku bisa melihatmu. Tak seharusnya berharap lebih banyak padamu. Seharusnya..seharusnya.. dan mungkin ada lebih banyak kata seharusnya yang kan membuat penyesalan ini semakin dalam.

Jika akhirnya aku menunggu waktu untuk mengobati lukaku. Ternyata aku salah. Bahkan permintaan maafmu setelah beberapa tahun kemudian, tak sanggup membalut luka. Malah membuatnya semakin menganga. Bersama kenangan pahit yang masih saja bersemayam. Aku bisa apa?

Aku pernah bahagia bersamamu. Jumlah tawa kita mungkin jauh lebih banyak daripada isak yang tak sengaja kau hadirkan. Aku lupa bahwa setiap orang punya cara membahagiakan yang tak sama. Dan aku  maupun kamu punya hak untuk bahagia. Meski tak bisa melanjutakan hidup untuk selamanya bersama.

Untuk itulah aku memaafkanmu. Memberi ruang hatiku untuk bebas bernafas. Tak lagi terbelenggu dengan sumpah serapah yang tak pantas. Juga sesal dan sesak yang saling bergantian menerabas.

Aku memaafkanmu dengan segenap hatiku. Membukanya lebar lebar untuk memberikan kesempatan pada seseorang yang bersedia datang. Untuk membasuh, membalut dan menyembuhkan luka itu. Tapi bukan kamu.

Dan jika pada akhirnya aku mampu menemukan satu untuk tetap tinggal hingga ke pelaminan. Kenapa engkau malah kembali datang? Menawarkan sejuta harapan yang bagiku sudah hilang? Bukan salahku jika  pada akhirnya kau sendiri yang tak bisa melupakan aku kan? Bukan salahku yang akhirnya membuatmu menyesal karna dia tidak sebaik aku seperti katamu kan? Jadi untuk apa? Menikahlah. Aku sudah memaafkanmu.


Saturday, 4 February 2017

UNTUK SESEORANG YANG TAK TAHU ARTI "SAYANG"

08:06 2 Comments


Aku tertegun, ketika tiba-tiba kau bertanya “Sayang itu yang seperti apa sih?’’. Aku tertegun bukan karena kamu sebagai pihak yang melontarkannya. Tapi lebih pada diriku sendiri. Untuk sepersekian detik aku menatap luruh ke diriku. Menatap lurus pada kaca ilusi yang aku hadirkan sendiri. Ah ya.  "Apa arti sayang?. Apakah aku memilikinya?". Entah kenapa untuk beberapa hari kemudian pertanyaan seperti itu selalu berulang.

Sampai pada suatu sore aku melihat seorang kakek tua dengan cucunya berada beberapa meter dihadapanku. Dengan kekuatan dua tangan renta diiringi hujan keringat beserta sisa-sisa tenaga tuanya, dia tetap berusaha menggayuh mangga yang bergelantungan jauh di atas kepalanya itu. 
Tampak sang cucu bersorak kegirangan ketika mendapati beberapa gelintir buahnya berjatuhan tepat diatas tanah yang tak jauh darinya.

Serasa diingatkan aku seperti menemukan sebuah kesimpulan. Itulah rasa sayang. Ketika apapun yang kau lakukan adalah untuk membahagiakan seseorang. Tulus tanpa mengharapkan imbalan. Kamu tak perlu membelinya dengan hartamu. Cukup melakukan apa dan dengan cara yang dia inginkan. Sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum bahagia karena berarti kau telah menyenangkan hatinya. Ya. As simple as that, i think!

Segera aku beranjak dari tempatku berdiri. Membeli beberapa kue lapis kesukaanmu. Bukan lagi makanan kesukaanku (yang seperti biasanya aku bawa), untuk kita habiskan bersama sore ini. Demi menyenangkanmu. Iya, kamu. Yang membuat aku mengerti akan arti kata "sayang". Dan untukku yang tak pernah mengerti kata itu sebelumnya. 



rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email