Monday, 30 July 2018

Tips Ayah : KETIKA SI "CIUT NYALI" TAK KUNJUNG BISA NAIK SEPEDA RODA DUANYA

04:09 0 Comments

Tips mengajari anak naik sepeda roda dua

Hai...hai...hai... akhirnya bisa mengumpulkan sisa2 tenaga buat nulis artikel lagi nih. Sisa2 tenaga? Bilang aja malas gitu ya? Wkwkwk.

Iya deh. Pada artikel ini pengen ngebahas tentang pengalaman papahnya Dhafin mengajari anaknya naik sepeda. Jadi yg dimaksud "ciut" nyali disini bukan anak siapa2 selain anak kami sendiri ya. Dhafin. Usia 6 tahun.
Enam tahun. Dan belom bisa naik sepeda roda 2. Hmmm. Ada yg begini juga gak sik buebooo?Kalau saya, to be honest sih iyes. Huks...
Kalo ada yang nanya : "Kok tau anaknya ciut nyali?". Betapa tidak? Baru juga disuruh latihan, anaknya sudah mringis. Trus bilang : "Nanti kalau aku jatuh gimana?" , "Kalau lututku berdarah gimana?", "Kalau aku jatuh trus gak bisa jalan gimana?", "Gak mau aaah..." tolaknya dengan argumen paling tersering di atas.
Yasudahlah. Papahnya langusng menarik kesimpulan kalau sang anak memang belum tertarik naik sepeda. As simple as that loh!
Padahal emaknya mah kadang kok ya mikir. Itu anaknya si anu, temen sepantaran Dhafin  udah bisa naik sepedanya sejak usia 3 tahun.  
Bahkan pernah kejadian dimana saat Dhaf pergi ngaji ke musholla. Ada anak cewek yg lebih kecil posturnya dari Dhaf bilang tanpa dosa : "Dhafin belom bisa naik sepeda roda dua sendiri eg ya. Padahal semua sudah bisa."
Iyaaaa. Semua anak di tempat ngaji dhaf sudah bisa naik sepeda roda dua.
Melihat hal itu sesegera mungkin melihat reaksi Dhaf.
Yang dilihat cuman senyam senyum. Terus bilang ke saya : " Gak papa ya, Mah. Gak malu".
Hehe. Demi melihat masih adanya sorot sinar PD di kedua mata Dhaff, emaknya jadi semangat. Gak boleh kalah PD sama anaknya donk ya😉 *meski pada dasarnya hati emak meletup2 nih*

Hingga singkat cerita, di suatu hari minggu nan ceria *halah*. Entah dapat hidayah darimana. Dhaff tiba-tiba bilang ke papahnya. "Papah. Copotin roda duaku donk. Aku mau belajar naik sepeda roda 2."
"Bener?" tanya papahnya menggoda sekaligus menguji kesungguhan Dhaff.
"Iya. Bener"
Akhirnya papahnya pun angkat tangan. Mencopot kedua roda Dhaff. Tapi zebelumnya papahnya sudah berbisik kepada saya. Intinya habis dicopot. Pasti anaknya sudah lancar naik sepedanya.
Benar saja. Belom sampai papahnya mengikuti dari belakang, Dhaff sudah bisa melajukan sepedanya dengan lancar.
Ketika kutanya. Papah Dhaff hanya mengendikkan bahu sebelum akhirnya berkata bahwa ada "rahasia" di baliknya.
Rahasianya? Jadi sebulan sebelumnya, paphnya sudah menaikkan saddle sepeda Dhaff menjadi lebih tinggi. Ketika beberapa minggu terakhir melihat Dhaff sudah mulai bisa imbang menaiki sepeda tanpa bantuan kedua roda dibelakang, saat itulah papahnya mulai menaikkan saddle sepeda Dhaff.

Dan tanpa sepengetahuan Dhaff sebenarnya dia sudah bisa naik sepeda tanpa bergantung pada kedua roda dua dibelakang sepeda. Cuman belum PD aja. Maka ketika Dhaff meminta sepeda roda dua belakangnya dicopot, dan papahnya menurunkan saddle sepeda sesuai dengan tinggi badan Dhaff. Disitulah dhaff mulai percaya diri dan akhirnya, tanpa beban bisa menaiki sepedanya sendiri. Tanpa bantuan sedikit pun untuk dipegangi. Hehe.

Jadi kesimpulan dari tulisan diatas adalah, jika anak kita punya ciut nyali. Mungkin bisa mencoba cara berikut ini :
1. Jangan paksa anak untuk berlatih sepeda jika dia tidak minta sendiri. Tapi sesekali harus juga ditawarin asal ga maksa ya. Karena ada anak yg tipikalnya semakin gak mau belajar kalau dipaksakan.
2. Jangan samakan/bandingkan anak kita dengan anak lain seumurannya yg sudah bisa naik sepeda. Agar anak tidak minder dan berakibat "mutung" belajar naik sepedanya kembali.
3. Anak takut pasti ada sebabnya. Cari penyebabnya dan ajak anak diskusi dengan ketakutan2 yg dirasakannya.
4. Cari trik yg sekiranya nyaman buat anak mau belajar naik sepeda. Dalam hal ini yg dilakukan ayah Dhaff adalah  menaikkan saddle sepedanya lebih dulu untuk beberapa waktu sebelum roda dua belakangnya dicopot. Agar Dhaff mau belajar dan terbiasa sedikit demi sedikit dengan "sedikit" kesulitan yang tak disadarinya.
Setelah anak terbiasa dengan saddle yg lebih tinggi, coba lihat apakah roda dua itu sudah seimbang dan tidak digunakan oleh yg menaikinya.
5. Copot roda hanya jika sang anak meminta. Dalam hal ini selalu ada masanya kok ternyata. Hanya anak yg bisa mengukur sendiri kamampuannya.
6. Terus motivasi anak. Jangan dibuat minder dengan kebelum mampuannya akan sesuatu.

Kalau mba Christanty Putri Arty dan mba Ade Hermawati setuju gak nih?

#arisanblogergandjelrel




rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email