Friday, 27 November 2020

20:42 0 Comments

Haloooo, Assalamualaikum...

Sudah lama sekali rasanya gak nulis di blog, yach. Sebagai sebuah refreshment, untuk pembuka kali ini aku mau bahas soal rumah tangga dulu, laa yaa... Entah kenapa rasanya dari kemarin kok kepikiran pengen nulis inišŸ¤­

Btw, mau tanya dulu donk, siapa sih yang gak pernah ngerasa bosan dengan hubungan rumah tangganya? Kalau gak pernah, selamat ya!

Bicara soal rumah tangga otomatis bukan hanya bicara tentang satu orang lo ya. Karna rumah tangga itu dibangun oleh dua orang yang mau terlibat didalamnya. Ibarat pepatah "It always takes two to tango". Rumah tangga hanya akan berjalan dengan baik, jika keduanya mau saling mengisi dan terlibat dalam segala hal yang ada dalam rumah mereka.

Dan semuanya tak selalu berjalan mulus, akan selalu ada masalah. Entah usia rumah tangga 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun maupun berpuluh-puluh tahun pun akan selalu ada masalah yang menjadi ujian. Selama masalah itu masih bisa diatasi dengan komit berdua, insyaallah biduk rumah tangga akan terselamatkan.

Nah, salah satu masalah yang "sering" muncul adalah timbulnya rasa jenuh atau bosan. Entah rasa jenuh  terhadap pasangan, terhadap rutinitas hubungan ataupun bosan dengan masalah yang sama dan tak kunjung usai karna tak ada penyelesaian.

Ketiga masalah itu kuncinya  sebenarnya ada pada komunikasi. Dan yang harus kita tahu adalah gaya komunikasi pasangan. 

Disini saya tidak akan membahas dua masalah terakhir, ya. Yang akan saya bahas adalah berkaitan dengan rasa bosan terhadap pasangan. 

Menyadari kalau tak ada pasangan yang sempurna adalah koentji, agar kita tetap  mau berusaha menjaga agar hubungan tetap berjalan dengan baik. Dan yang bisa dilakukan ketika sedang berada di titik jenuh tersebut adalah :

1. Me-Time.

Yaelah, uda bosan malah me-time? Hehe. Jangan salah, me-time ini berkaitan dengan self-love. Menjaga mood agar tetap baik itu penting,loh. Agar kita tidak melakukan tindakan yang ujung-ujungnya akan membuat kita menyesal seumur hidup.

Silakan melakukan hal yang menurut kita bisa menambah mood baik dengan hal-hal yang kita senangi. Bertemu teman, melakukan hobi, mengkonsumsi makanan/minuman favorit kita atau apapun hal yang menurut kita bisa membuat happy adalah solusi.

2. Melakukan refleksi diri

Kalau sudah me-time dan merasa happy, hal selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah melakukan refleksi diri. Coba tanya diri sendiri dulu, apa sih yang membuat kita bosan terhadap pasangan. Bisa jadi mungkin sebenarnya kita hanya butuh pelukan, butuh didengarkan, rindu sesuatu yang berkaitan dengan pasangan  atau ada hal-hal yang sebenernya kita ingin lakukan berdua dengan pasangan namun tidak tersampaikan. 

Kalau sudah bertemu akar masalahnya, selanjutnya adalah :

3. Komunikasikan dengan pasangan.

Coba komunikasikan ke pasangan berkaitan dengan perasaan dan keinginan kita. Dan cari solusinya. Bahkan apabila salah satu solusinya adalah untuk tidak bertemu dulu sementara waktu, coba komunikasikan. Apa yang harus dan bisa dilakukan oleh pasangan untuk membantu. Usahakan dalam mencari pemecahannya yang win-win solution ya. Yang sama-sama bisa bikin happy. Sehingga kita bisa tambah mesra setelah bisa melewati rasa bosan.

4. Mengisi tanki cinta dengan penuh di hati

Tanki cinta? Apanya tanki minyak? Hehehe. Tanki cinta itu ibaratnya sebuah wadah yang berisikan segala hal yang membuat kita jatuh cinta kepada pasangan. 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengisi tanki cinta ini. Bergantung pada kebiasaan masing-masing. Yang bisa dilakukan antara lain :

a. Melakukan kebiasaan lama seperti saat pertama bertemu pasangan

Masih ingat gak sih, momen-momen yang bikin deg-degan waktu bertemu pasangan? Coba sekali-kali kita mengulang kembali saat-saat itu.

Datang diam-diam ke kontrakan/ kantornya untuk membawakan makanan kesukaan contohnya. Atau mengajak bertemu ditempat pertama  bertemu juga bisa jadi pilihan. 

b. Merekam 

Merekam semua gerak-gerik pasangan. Dan lalu temukan hal yang membuat kita jatuh cinta. Entah caranya ketika tersenyum, manyun, bertingkah seperti anak kecil, atau apa saja yang membuat kita dulu bisa jatuh cinta padanya.

c. Mendengarkan lagu

 Biasanya...((biasanya)) nih kita punya lagu kenangan bersama pasangan kan ya? Entah lagu ketika resepsi pernikahan, lagu yang pernah dikirim/dinyanyikan pasangan kekita. Atau bahkan lagu yang tidak sengaja kita dengarkan ketika sedang makan berdua di warung makan langganan (eciye...).

Kalau tidak punya bisa juga mendengarkan lagu mellow bertemakan cinta yang sesuai dengan perasaan kita.

Coba deh dengarkan lagu tersebut kembali. Dan biarkan ingatan kita kembali melayang pada saat-saat indah bersama pasangan. Langsung auto mata dan hati kita berflower-flower jadinya.

Nah, kalau tanki cinta kita sudah kembali full, maka hal terakhir yang harus kita lakukan adalah :

5. Bersyukur

Mencoba mensyukuri bahwa sampai saat ini masih ada seseorang yang berada di samping kita. Masih bersedia menemani kita melihat tumbuh kembang anak-anak berdua. INsyaallah akan membuat kita kembali ke sebuah kenyataan bahwa Tuhan yang Maha baik sudah mengirimkan malaikat terbaikNYA.  Dan tugas kita adalah menjaga pernikahan hingga ke jannahNYA.

Insyaallah. Aaamiin allahumma aamiin.

Semoga artikel ini bermanfaat ya.

Wassalamualaikum wr.wb

Wednesday, 25 November 2020

CERPEN TEMA PENDIDIKAN DAN PERSAHABATAN : HP UNTUK ALIN

17:54 1 Comments

HP UNTUK ALIN

Alin tampak gelisah. Diliriknya HP yang layarnya sudah tergores itu dengan hati yang sedih. Betapa tidak? Itu HP satu-satunya di rumah. Yang membantu dirinya dan Lisa, adiknya untuk mengerjakan tugas daring dari Sekolah.

Tiba-tiba ingatannya menyeruak. Bagaimana dia dengan teledornya menyenggol air minum yang berada di dekat Hp itu terletak.  Menyebabkan hp itu mati tak mau lagi menyala. Entah sudah berapa kali Alin  mencoba untuk menghidupkannya. Untuk beberapa detik, badannya jadi kaku. Lidahnya pun kelu. Tak mampu berteriak. Takut dimarahi Bapak.

Alin bersegera memasukkan HP itu ke kamarnya. Dengan sedikit seringai ke Lisa, mengancam agar Lisa menutup mulutnya. Tak mencoba mengadu pada Bapak, juga Emak. Dan lalu mencoba berusaha mengarang cerita agar Bapak dan Emak maklum dengan keteledorannya. Namun tak sepatah katapun keluar dari mulut mungilnya itu. “Hhhhhhhhh”, desahnya. Deadline nya cuman sampai sore ini. Sebelum Bapak dan Emak sampai rumah.

“Aaaaliiin…”, tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia kenal. Itu pasti Martha. Alin pun bergegas keluar dan menyambut Martha didepan rumah. Entah darimana, tiba-tiba terbesit satu ide di otaknya.

“Martha, udah ngerjain tugas Bu Ersa belum?, tanya Alin lirih. Yang ditanya cuman menggeleng. “Kalau begitu kita kumpulin teman-teman, yuk. Kita kerjain bareng biar cepat selesai”, sambungnya lagi.

“Iya deh yuks”, jawab Martha yang kali ini terlihat ikut bersemangat.

Jadilah Alin dan Martha pergi ke rumah Davino. Sesampainya di rumah Davino ternyata di ruang tamu sudah ada juga Lenon dan Andra yang sedang mabar game Among Us.

“Vino, Lenon, Andraaa… kita kerjain tugasnya bu Ersa sama-sama yuuk”, teriak Alin. Sontak ketiga orang yang namanya disebut itu menoleh. Tapi untuk sepersekian detik kembali asyik menatap layar HPnya. Alin kecewa. Diraihnya koran yang ada di atas meja. Dibentuk sebuah terompet dan menempelkannya ke telinga kiri Andra. “Woooooiiii”, teriaknya.  Andra seketika berdiri dan hendak marah. Tapi Alin menampakkan segera tersenyum dan menampakan wajah tanpa dosa.

“Andra, bantu kerjain tugasnya Bu Ersa, donk”, bujuk Alin.

“Gak mau ah, aku kan lagi main ini”, katanya sembari menunjuk ke HPnya. 

“Ah, Andra gak seru!”, sahut Alin sembari menarik tangan Martha menjauh dari rumah Davino.

Mereka berdua bergegas kerumah Ratih. Sebelum sampai di rumah Ratih, Alin meminta Martha untuk menghampiri Rinda lebih dulu.  Kebetulan rumahnya selisih empat rumah sebelum rumah Ratih. Alin berjanji untuk menunggu Martha di rumah Ratih.

Martha pun mempercepat langkahnya. Tak sabar dia menemui Rinda. Bayangan selesainya tugas Bu Ersa yang banyak itu  menari-nari di matanya. “Assalamualaikum”, sapa Martha ketika melihat Bu Aryo, Ibu Rinda.

“Eh Martha, mau nyari Rinda ya?’, sapa beliau ramah.

“Iya, tante. Rindanya ada?”, jawabnya cepat

“Ada. Bentar, ya. Tante panggilkan dulu”.

Tak seberapa lama tampak Rinda dengan senyum ramahnya  menyambut Martha.

“Hai Martha, Ada apa ih?, katanya kemudian.

“Ini Rinda, alin dan aku mau ke rumah Ratih buat ngerjain tugas Bu Ersa. Kamu mau gabung nggak?

“Aku udah kerjain sih, tapi baru separuh. Hmmm gimana ya? AKu bilang Ibu dulu ya, Martha?”

“Iya deh, aku tunggu disini ya”

Rinda pun bergegas masuk dan bertanya pada Ibunya.

Tak seberapa lama, tampak Rinda membawa tas kecil berisi beberapa buku dan HP ditangannya.

Martha merasa lega. Tidak sia-sia mengajak Rinda, anak paling pintar dikelasnya. Mengingat itu, Martha jadi senyam-senyum sendiri sepanjang perjalanan ke rumah Ratih.

***

Alin melambaikan tangan ketika melihat sosok Martha dan Rinda dihalaman depan rumah Ratih. Sang empunya rumah sudah siap dengan buku yang berjajar di meja depan tempatnya duduk.

“Yuks, kita mulai”, kata Alin. “Rinda dan Ratih yang nulis dan cari di buku. Nanti aku sama Martha yang nyari di internet ya”, tukas Alin memberikan instruksi.

Tapi, aku pinjem HP nya ya, kata Alin.SEtelah keempatnya setuju, Rinda mengulurkan HP nya kepada Alin. Dan mulailah mereka sibuk mengerjakan tugas berempat.

Tak lebih dari setengah jam, Ibu Ratih keluar membawa minuman. Tentu saja keempat anak tersebut bersorak senang. Setelah mengucapkan terimakasih, masing-masing bersegera mengambil jatah minumannya. Segelas es sirup leci. Segar!

Akhirnya, setelah beradu argument dan sesekali diselingi cerita juga tawa lepas,  tugas yang mereka kerjakanpun selesai juga. Tampak keempatnya tertawa puas.

“Wah, gak terasa udah mau jam lima, nih. Aku mau pulang, ah”, kata Martha. Yang lain ikut melirik jam dinding di tembok rumah Ratih.

“Iya, aku juga mau pulang. Tadi cuman ijin Ibu sebentar”, Rinda ikut menimpali.

Ketika Ratih dan Rinda merapikan buku, Martha dan Alin tak lupa meminjam buku catatan mereka.

“Oh iya, ini HP nya”, ucap Alin sembari menyerahkan HP Rinda. 

Rinda segera pamitan setelah memasukkan HP dengan tergesa di tas yang penuh dengan bukunya itu.

Martha juga ikut berpamitan. Sedang Alin, dia tidak jadi pulang karena hendak mencatat di rumah Ratih saja. Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya. Alin takut pulang. Alin takut kalau nanti sampai dirumah, Lisa sudah mengadu pada Emak dan Bapak perihal HP nya yang rusak.

Sebentar lagi Maghrib, Alin menyudahi pekerjaanya. DIa merasa tidak enak. Dengan terpaksa Alin pamit pulang. Ketika dijalan, dia melihat ada sesuatu benda yang berkilat didekat rumah Ratih. Dipungutnya benda berbentuk kotak itu. Jantungnya berdegup kencang. Itukan… HP Rinda yang dipinjamnya tadi! Alin mencoba melihatnya lebih detil. Dan dia ingat betul dari casing HP yang ada gambar foto Rinda dibelakangnya. Ternyata tidak bisa dinyalakan. Baterai HP itu habis. Alin bermaksud akan mengembalikan, tetapi salah satu sisi hatinya berkata “jangan”. Otak jahatnya tiba-tiba ikut ambil bagian. Kenapa tidak ia jual  saja HP itu di counter Mas Aan untuk menukarnya dengan HP yang sama dengan miliknya. Agar tidak ketahuan Emak dan Bapak.

“Ah, Iya! Benar sekali”, teriak hatinya dengan gembira. Lalu Alin memasukkan HP itu kedalam sakunya. Ia sempat melirik jam di tangannya. “Rinda sedang sibuk sholat dan mengaji bersama orangtuanya pasti, jam segini”, batin Alin. Sebelum Rinda menyadari HPnya tidak ada dalam tas dan menyusuri jalan ini, Alin pulang dengan tergesa.

Ada rasa tak tentu dihati Alin. Antara senang, cemas, takut dan juga was-was. “Assalamualaikum,” sapa Alin begitu masuk rumah. Ada suara khas Bapak yang menjawab salamnya. Hatinya semakin tak karu-karuan.

“Kok baru pulang. Darimana saja, Alin?” Tanya Emak yang tiba-tiba sudah ada didekat Bapak.

“Mmmmm,,ini Bu. Belajar Kelompok bersama Martha”, jawab Alin sembari memamerkan buku dan kertas sobekan catatan tugas Bu Ersa kepada Emak. Ibunya tersenyum lantas memerintahkan Alin untuk sholat Maghrib segera.

Alin baru akan salam ketika mendengar Lisa datang dan teriak “Emaaaak, tadi Mba Alin tumpahin air ke HP. Hpnya jadi rusak”.

Alin ta berani beranjak dari tempatnya shalat. Emak sudah pasti mendekat, juga Bapak.

“Didepan pintu, Emak sudah tampak menunggu jawaban Alin.

“Bener, Nduk?”, Tanya Emak.

Alin ketakutan, tapi kemudian berusaha menjelaskan ihwal bagaimana tadi HP itu bisa terkena air.

“Maafkan Alin, Mak. Alin tidak sengaja. Alin teledor. Alin siap dimarahi Bapak”, katanya setengah terisak.

Bapak yang mendengar percakapan dibelakang Emak lalu masuk kamar. Tampak beliau mengehla nafas panjang sebelum berkata : “Ya sudah, gakpapa. Yang penting Alin sudah menyadari kesalahan. Tapi janji ya, Nduk,lain kali kalau punya HP lagi, dihati-hati. Bapak belinya susah”

“Maksudnya lain kali, Pak?” Alin mendongakkan sedikit kepalanya berusaha melihat Bapak.

Bapak mengeluarkan sebuah HP jadul yang masih tampak baik itu dari sakunya. “ini, kebetulan tadi Bapak dikasih harga murah dari Mandor, Bapak. Sedianya mau ganti beliin adikmu biar kalian tidak rebutan mengerjakan tugas sekolah”, kata Bapak lagi.

Alin segera menghambur ke pelukan Bapak. “Jadi? BApak tidak marah? Alin boleh pakai HP lisa juga kan, Pak?’, sahutnya manja.

Bapak mengangguk. Sontak Lisa melebarkan kedua tanganya bersiap memeluk Bapak. Emak dan Lisa ikut tertawa melihat tingkah Alin.

“Terimakasih ya, Pak”, kali ini Lisa ganti ikut menghambur ke pelukan Bapak.

Alin lega dan senaaang sekali. Tiba-tiba dia teringat akan HP Rinda. Alin  berjanji setelah ini akan bersegera pamit untuk pergi kerumah Rinda. Lalu mengembalikan HP yang tadi akan dijualnya untuk mengganti HPnya yang rusak.

***

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog