Showing posts with label #1Minggu1Cerita. Show all posts
Showing posts with label #1Minggu1Cerita. Show all posts

Saturday 11 March 2017

HUZZI FIRDAUS AL HARITS

18:25 14 Comments

"Apa bahasa arabnya sedih atau kesedihan?" Tanyaku pada ibu yang saat itu ada di dekatku.
"Huzzi" jawabnya sembari berlalu untuk mengepaki baju yang akan dibawanya pulang.
Aku menyeka sisa-sisa air mataku, sebelum akhirnya bilang "Iya, adek beri nama HUZZI FIRDAUS AL HARITS saja, bu."
"Tulis di kertas saja" kata beliau  kemudian.
Aku menggunakan sisa-sisa tenaga pasca cesar tadi pagi. Jadi mungkin nada bicaraku masih sangat lemah dan membuat beliau agak kesulitan mendengarkanku. 

Tak berapa lama suamiku datang untuk menjemput. Sekaligus mengantar jasad bayi kami kerumah. 
Ibu memelukku sebentar sebelum berpesan "Sing sabar ya, nduk. Sing ikhlas."
Aku hanya menatapnya tanpa menjawab. Kuanggukkan kepalaku pelan. "Doakan aku kuat ya bu." ujarku lirih. Ibu mengecup keningku. Tak lupa aku ulurkan gulungan kertas berisikan tulisan nama lengkap huzzi kepadanya.

Sepeninggal mereka, aku kembali membalikkan badan. Mengeluarkan semua isak yang sedari tadi sudah kutahan-tahan.
Ini dua kalinya aku merasa kehilangan. Tawa kegembiraan yang sedianya ingin aku hadirkan di kedua mata ibuku dan suamiku ternyata tak bisa kuberikan. Untuk sekali lagi aku malah kembali menghadirkan tangis itu lagi. Tangis yang ada pada kelahiran anak pertamaku dulu, empat tahun yang lalu. Dan kini, untuk kedua kalinya akulah yg menyebabkan tangis mereka itu kembali ada. (Hiks. Maafkan).

Aku terhenyak ketika ada sms masuk. Ternyata dari suamiku yang menanyakan nama bayiku yang akan dituliskan pada batu nisan, sebelum dimakamkan. 
Entah kenapa ketika mengetikkan namanya, ada perasaan tidak enak muncul dalam benak. Aku sudah terlalu sedih, kenapa harus memberi nama sedih untuk bayiku yang sudah tidak ada? Ah, bodohnya aku!

Belum selesai aku menuliskan nama lengkapnya, dering nada pesan kembali masuk.
Kali ini dari ibuku.
"Nduk kemaren itu ibu bilange husni bukan huzzi. Gimana?" 

Ah, tiba-tiba aku merasa lega. 
Kubalas pesan ibuku lebih dulu. "Iya bu, gakpapa. Huzzi aja."
Aku ganti mengirim pesan untuk suamiku. "HUZZI FIRDAUS AL HARITS itu namanya adek ya pah." 

Entah kenapa kali ini aku sedikit bisa merasakan lega. Karena akhirnya menemukan nama bayi yang lebih baik daripada sebelumnya. Yaitu :
HUZZI FIRDAUS AL HARITS.

Karena "huzzi" tidak ada penjelasan artinya, maka anggaplah itu nama kesayangan khusus dari kami yang mencintainya. "Firdaus" berarti surga. "Al harits adalah nama lain untuk nabi Muhammad SAW. 
Jadi kurang lebihnya  artinya adalah anak kesayangan  dari umat Muhammad yang ada di surga.
Nama yang kami berikan sebagai  pengingat untuknya jika kami diijinkan untuk bertemu dengannya kembali, kelak. Di sebenar-benar rumah-NYA.

Satu-satunya foto alm. Huzzi yang aku punya. Bismillah. Ilarruhi Huzzi. Al faatihah ;'(.











Sunday 19 February 2017

Menanti datangnya cinta

06:42 4 Comments


"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu  benar-benar mencintaiku?" 
"Menikahimu". 

Itu adalah sekelumit pertanyaan yang selalu aku ajukan untuk mengalihkan keinginan Saddha untuk melamarku. Bagaimana bisa, seseorang yang baru beberapa minggu aku kenal, dengan mudahnya bilang mencintaiku? Ah, tidak tidak. Aku tidak ingin lagi terjebak pada cinta yang pernah menyakitiku. Cinta yang membuatku terluka hingga trauma.

Saddha bukanlah seseorang yang istimewa bagiku pada awalnya. Dia pendiam, cenderung sangat pendiam. Berbeda karakter sekali denganku. Tak banyak yang aku tahu ketika pertemuan pertama kami di senja itu. Juga pertemuan-pertemuan berikutnya.

Dia bukan sosok yang pernah aku bayangkan akan hadir di hidupku.  Bukan yang aku idam atau impikan. Karena lebih dari kesamaan, yang kami miliki justru hampir semuanya berkebalikan. Kesukaan, keinginan, obsesi, sudut pandang. Aaah. Kami sungguh-sungguh berbeda satu sama lain.

Tapi seperti biasa, Tuhan selalu punya kejutan. DIA hadir dalam segala hal yang bahkan bagi kita bisa jadi bukanlah suatu keniscayaan. Sama seperti hadirnya Saddha. Yang datang tepat ketika aku sedang terluka. Luka yang bagiku mungkin takan pernah ada obatnya. Luka yang wujudnya seperti slide yang berputar terus-menerus tanpa bisa kucegah datangnya. Tak hanya  di mata. Tapi juga kepala. Dia hadir disaat setiap hari bagiku adalah air mata.

"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu benar-benar mencintaiku?".
"Menikahimu". 

Dan kata-kata itu yang selanjutnya selalu bernaung di pikiranku. Meninggalkan gaung hingga raung di dalam setiap relung tubuhku.

Menorehkan sekian tanya tentang apakah aku akan bahagia? Apakah ada lagi tawaku yang lebih keras dari yg sebelumnya? Sanggupkah ia ciptakan bahagia diatas balutan luka, dengan menutup setiap luka yang sudah terlanjur menganga ?

"Jadi, apa yang bisa membuatku yakin kalau kamu benar-benar mencintaiku?".
"Menikahimu" .
Ah, aku ini siapa? Rutukku ketika dia (untuk kesekian kalinya) menyatakan keinginannya untuk melamarku. Dia bahkan tak mengenalku sebaik orang yang ada untukku sebelumnya. 
Tapi, kedatangannya di suatu hari itu bersama kedua orangtuanya benar-benar membuktikan pernyataannya bukan sekedar omong kosong atau angin lalu.

Aku ciut melihat nyali besarnya. Beribu pertanyaan  seperti "Benarkah aku orang yg dicarinya?" sempat kembali menghujani pikiranku. Meracuni semua kata baik yang selalu berusaha diungkapkannya di sebalik sikap baiknya padaku.

Untuk itulah aku menatap lebih lama pada matanya. Mencoba mencari ketidakjujuran yang terperangkap disana. Seketika itu juga hatiku menelangsa. Karena yang kucari tidak kutemukan jua. Tak sedikitpun keraguan itu ada disetiap sudut, rona hingga binarnya.
Hingga akhirnya kutundukkan pandangan. Kuterima pinangannya. Aku menyerah. Tapi bukan kalah. Aku hanya pasrah.

Bukankah kelak, cinta itu bisa datang kapan saja?

RELATED STORY :  "Menikahlah!. Aku sudah memaafkanmu".




Photo credit : id.hrhwalls.com

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog