Friday, 12 May 2017

Ibu, hiduplah lebih lama untukku...


Aku tak tahu dari mana muasalnya, ketika tiba2 kalimat ajaib itu muncul begitu saja. Bersamaan dengan munculnya sosok renta yang mendatangiku dalam keadaan sedang bercucuran air mata.

Sejak mengalami operasi cesar yang ketiga dan pasca memasang IUD, entah kenapa badanku jadi lebih mudah drop. Jauh berbeda denganku dulu. Terutama disaat datang bulan. Bahkan maag kronis yg dulu sempat ku sandang dan sudah hilang. Tiba2 kembali ikut datang.

Ah, aku selalu punya "sedikit" sesal karna dilahirkan sebagai anak yg mudah mengeluarkan air mata. Pun malam ini ketika seluruh keluhan itu datang bersamaan. Bergulat dengan rasa sait yang tak berkesudahan sudah sangat menguras tuntas seluruh air mataku.

Aku pernah memeriksakan ke dokter kandungan di kotaku. Tapi kata beliau semuanya normal. Aku hanya diberi obat jika suatu saat rasa sakit itu kembali menyerang. Terkadang ada rasa sangsi dengan diagnosanya. Secara dr pertama datang bulan dulu, aku tidakpernah merasakan kesakitan. Hingga seringkali teman2 melirik iri kepadaku disaat yg bersamaan merrka harus memegang perutnya dan ijin untuk mapel olahraga.
Tapi untuk kembali mencari second opinion, rasanya kok takut jika tidak bisa mengjadapi kenyataan. Menunggu nanti jika suatu saaat ada tangan besar yang mau menggenggamku dan sanggup meyakinkan kalau semua baik2 saja. *Demikian ketika naluri insecure ku yang berbicara*.

Kembali pada sosok renta yang kupanggil Ibu. Dengan sangat mahfum, beliau mengambil sebotol air panas untuk menyeka perutku. Juga air hangat plus madu. Obat maag juga sudah terlihat ditanganya. Padal hampir setengah mati tadi aku mencari2nya dimana saja. Hufft.
Tak hanya itu saja, hal utama yg paling ak butuhkan dari beliau adalah rapalan doanya. Yang ta pernah berhenti sembari memijit kaki dan tanganku. Atau sesekali mengusap punggung, pinggang dan perutku. Doa yang sudah sangat dihafalnya. Ketika berhrnti, itu adalah saat dimana beliau meniupkannya di seluruh bagian tubuhku. Doa untuk kesembuhanku.

Ah Ibu, aku tak tahu apa yang akan kuhadapi jika tak ada dirimu tadi. Menahan perih dan rasa panas di seluruh ruang perutku yang acapkali bergantian dengan remasan yang datang bertubi-tubi. Juga muntahan yang berulangkali membuatku terseok2 untuk sekedar pergi ke kamar mandi. Hingga kurasakan seluruh tubuhku mendingin.
Tak ada yang muncul di pikiranku selain aku ingin ada IBU disisiku.

Meski aku sudah jadi Ibu, mungkin hal ini kekanak2an sekali. Tapi keadaannya memang begini. Aku sempat punya keinginan untuk tidak tinggal bersmanya lagi. Tapi aku selalu sedih jika ingat kata ibuku "Kalau kamu pergi, ibu sama siapa, nduk? Gak ono konco grenengan meneh ngko?". Bukan tidak mungkin aku tidak meniggalkannya suatu saat nanti, secara aku punya keluarga sendiri. Tapi biarlah tuhan yg membuatnya waktu tepat dan terbaik saja untuk kami. Aku, ibu dan keluarga kecilku sendiri.

Ibu, hiduplah lebih lama untukku. Dengan bahagia dan sehat2 selalu. Agar lebih banyak waktuku untuk bahagiakanmu. Terimakasih untuk selalu jadi penyejuk hatiku. Juga pereda semua rasaku meski tanpa kuharus memberitahumu sgala hal yang kusimpan jauh di lubuk hatiku.

Terimakasih, Ibu. Tuhan benar2 mengirimkan malaikat terbaikNYA melaluimu. Semoga kelak, anakkku akan berdoa yang sama akanku.

Dari aku. Anakmu.

2 comments:

  1. Aamiin.. Teruslah berdoa dan menyayanginya mbak.. Selagi masih ada peluk erat mbak.. Karena kehilangan ibu untuk seorang anak bagaikan kehilangan dunia :(

    ReplyDelete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email