Friday, 16 November 2018

Pengalaman operasi SC ke-4 di Hermina Pandanaran Semarang


Biaya persalinan di Hermina Pandanaran

November ini tepat 1 tahun yang lalu, aku mendapatkan rejeki berupa kehamilan buah hatiku. Setelah copot IUD sekitar 2 bulan sebelumnya.

Kalau merunut riwayat kehamilanku. Ini bakalan jadi kehamilanku yang kelima. Tetapi kelahiran calon anak yang kedua. Iya. Sekedar flash back. Kehamilan pertamaku ada di bulan Juni 2009. Dan keguguran di bulan Agustus 2009. Kehamilan kedua di bulan Januari Tahun 2010. Dan bayi yang kami beri nama Filza Liyana lahir pada tanggal 28 Oktober 2010 sebelum akhirnya meninggal dunia di tanggal 24 Mei 2011. Sepeninggal Filza, kembali di bulan Juni aku hamil anak kedua. Yang kemudian lahir di tanggal 5 Maret 2012. Anak ini yang alhamdulillah jadi rejeki bagi kami hingga saat ini dan insyaallah selama2nya serta menjadi anak pertama yg ada di rumah. Berikutnya bulan September 2013 aku kembali hamil dan sang buah hati lahir di bulan Juni 2014. Tepatnya tanggal 13 Juni 2014. Selisih 5 hari dari hari ulangtahun papahnya. Sayang sekali, buah hati yang sedianya menjadi kado terindah untuk papahnya itu harus berpulang pada hari itu juga karena tidak menangis waktu lahir. Jadi bayi yang kami beri nama "Huzzi Firdaus Al Harits" ini meninggal juga di tanggal yg sama dengan kelahirannya 😭😒

Sebelumya, sesuai kesepakatan dengan suami, aku sempat pasang KB IUD pada saat bersamaan dengan proses tindakan SC ketiga ku saat itu. Tapi entah karena apa, ada beberapa efek yang kurasakan pasca pemasangan.

Efek yang aku rasakan pada saat memakai KB ini adalah sakit perut pada saat mens. Dan durasi waktu yg lebih lama dari masa mens sebelumnya. Jujur aja aku tidak pernah merasakan sakit pada saat mens dari waktu gadis sampai menikah dan punya anak. Baru merasakan sakit waktu habis pasang IUD ini. Saking sakitnya, seringkali aku izin tidak mengajar. Atau sekedar duduk meringkuk di kantor dengan menaruh sebotol air panas di perut untuk meredakan sebelum masuk kelas. Itupun dengan wajah pucat pasi dan serringnya tidak kuat. Sehingga memilih tiduran di meja kantor. Hhh. Ga nyaman banget.
Durasi mensnya pun bisa sampai 14 hari dengan kuantitas yg banyak. 

Melihat kondisi yg berulang seperti itu suamiku yang justru merasa kasihan. Dan meminta untuk copot KB dl sementara waktu. Sempat protes juga sih. Takut kebobolan. Secara emang kata dokter kandungan yg sebelumnya aku termasuk kategori subur. Tapi kata suami gak papa kebobolan. Alhamdulillah malah. Berarti masih rejeki. Jujur sempet takut sih. Karena trauma hamil dengan riwayat bayi yang "belum mau di momong" ituu masih ada. Tapi setelah bicara dari hati ke hati sama suami, akhirnya bismillah saja. Bahkan sedikit "diniatin". Biar dhafin punya teman hingga kelak. Kasihan juga kalau gak punya saudara nantinya.
Dan semua kekhawatiran itu akhirnya (alhamdulillahnya) terjadi juga. Dua bulan berikutnya aku dinyatakan positif hamil pasca copot IUD.

Senang dan takut campur jadi satu. Tapi semua ketakutan sudah aku bilang sih sama suami. Biar aku ngerasa punya kekuatan. Apapun keluhan aku sudah komit kalau akan memberi tahu suami. Gak perduli apakah beliaunya sedang sibuk dengan pekerjaannya atau tidak. Karena di kehamilan sebelum2nya aku lebih sering "memendam" sendiri. Takut mengganggu pikiran suami yg memang pekerjaannya saat itu selalunya sedang on target. Jadi mungkin itu yg jadinya ngefek ke psikisku dan bayi.

Dari rasa insecure ku itu. Aku mulai mencari banyak2 ilmu. Selain ilmu kehamilan juga ilmu untuk mendalami diri sendiri. Bagaimana biar ga gampang stress dan cara mengakomodir kekhawatiran2ku. Termasuk dengan cara sujud lebih lama dari biasanya. Dan duduk bersila dengan kepala menunduk seolah melihat kedalam jantung setelah sholat. Seolah-olah sedang "berbicara" dengan diri sendiri. Bahwa semuanya pasti akan terlalui dengan baik. Selain itu, qodarullah. Aku menemukan doa bagus banget untuk kehamilan di sebuah aplikasi yg bisa diunduh di playstore.


Alhamdulillah dari awal sampai akhir kehamilan tidak ada kekhawatiran yg cukup berarti. Semuanya lancar hingga hari H.

Untuk masalah dokter, sebenarnya aku tidak punya kriteria khusus selain mencari dokter yang berpengalaman dengan tindakan SC ke empat. Setelah survei di dokter Purwodadi, Solo dan Semarang. Akhirnya aku memutuskan untuk lahiran di tangan dokter Syarief Taufik Hidayat, S.Pog dari RS Hermina Pandanaran Semarang. Ini berdasar referensi dari seorang teman yang juga pernah punya pengalaman operasi SC 4 di dokter yang sama. 
Operasi Sc keempat di Hermina Pandanaran
Profil dokter Syarief Hidayat, SpOG(K) Fer. Beliau spesialis fertilitas sebenarnya. Jadi bisa banget buat kamu yg ingin program hamil.
Aku sendiri baru mulai periksa di hermina saat kandunganku berusia 8 bulan. Sebelumnya aku periksa di klinik dr. Ivan sanusi di kratonan Solo. Beliau praktek juga di Dr. Oen Solo. 

Cuman kalau di dokter Syarief, hal yg paling membuatku nyaman di pertemuan pertama itu adalah beliau langsung memberikan penjelasan tentang penanganan yang akan aku terima nantinya. Yaitu pembuatan luka baru karena ternyata sudah ada pelekatan hasil operasi SC pertama- ketiga. Luka baru itu tidak akan jauh2 dari bekas operasi sebelum2nya yang terletak pada satu tempat yang sama. Dari cara beliau memberikan penjelasan2 itulah yang membuatku merasa mantap untuk operasi sc ditangani oleh beliau.

Oiya, pertama kali datang ke dokter syarief, berdasarkan hasil USG, air ketubanku diketahui keruh. Ini terlihat seperti bintik2 putih dilayar. Oleh beliau aku disarankan untuk minum air kelapa muda untuk menjernihkan.

Kemudian, setelah membuat janji dan kembali  untuk periksa dua mingu berturut2 ke RS hermina. Akhirnya pada tanggal 7 Agustus 2018 aku mendaftar untuk penanganan operasi di tanggal 8 nya.

Aku datang pada sore hari jam 4 ditanggal 7 Agustus. Oleh perawat disarankan untuk menunggu jam 6 tepat biar tidak kena charge. Kami menuruti saran itu. Jam enam daftar lagi buat rawat inap. Aku kira cukup lima menit mendaftar dan langsung mendapatkan kamar. Ternyata tidak. Sekitar jam 8 malam aku baru bisa menempati kamar VIP di lantai 4. Hmmm, baiklah. Yang penting sesuai keinginan pikirku.
Emang sebelumnya aku sudah request khusus ke suami untuk ambil kelas yg VIP. Karena berdasarkan survei juga. Ada teman yg kasih referensi ketikaa temannya ada yg lahiran  di SVIP hermina dan katanya gak sakit sama sekali. Hari ketiga sudah pulang dan bisa naik kendaraan. Hhmmmm. Siapa yg ga tergoda kan ya? Bayangin terakhir Sc 3 aja kesakitan sampai ada 2 minggu. Jalan masih merambat pada tembok. Alih2 rumput yg bergoyang. Halaahhh. Akhirnya merajuklah sama pak suamik mau pakai kelas SVIP juga di hermina.

Tapi setelah lihat harganya yang selisih beberapa juta sendiri dengan yang VIP kok tiba2 iba sama suamik. Tabungannya bakalan ludes seludesnya. Apa kabar kehidupan setelah lahiran kelak?Wkwkwkwk. Manis manis gini aku kan juga istri yg sholehah yak? ((Manis)) ((sholehah)) πŸ˜‚πŸ˜
Biaya operasi SC di Hermina Pandanaran Semarang
Daftar perkiraan biaya melahirkan di RS.Hermina. 

Yasudahlah selisih harga. Yang penting harapan lahiran tanpa rasa sakit itu masih ada. Hehe.

Jam 8 malam begitu dapat kamar, suami diminta untuk mengisi formulir dan tandatangan beberapa diantaranya. Dari isi riwayat istri sampai penanganan yg di inginkan nantinya (seperti mau pasang kb/stiril pasca operasi).
Sedang aku sendiri tiduran manis di atas kasur dengan dipasangi alat rekam jantung untukku dan debay dalam perut.
Alhamdulillah untukku hasilnya normal. Sedang adik bayi. Ternyata ada beberapa kali deteksi yang menyatakan kalau sedang kontraksi kuat. Saking kuatnya tiba-tiba ada bidan yang masuk dan "merogoh". Takut ada pembukaan katanya. Dari situ aku baru tahu kalau pada pasien SC, kencang-kencang pada perut itu di kategorikan kontraksi seperti pada kelahiran normal. Hmmm. Padahal udah sering ngerasain itu sejak hari minggu. Berarti udah dua harian ini.
Karena belum ada pembukaan, maka tidak jadi di telponkan dokter. Untuk segera dilakukan penanganan. Alhasil, masih harus menunggu lagi.
Setelah rekam jantung, mulai dipasang infus. Oiya, masih dikasih "jatah" makan malam juga. Alhamdulillah.
Welcome food πŸ˜‰
Ruang kelas VIP Hermina Pandanaran Semarang
"Penampakan" ruangan di ruang 403.

Meja rias di kamar VIP Hermina semarang
Salah satu sudut yang ada di ruang kamar.

Cocok buat ngedate berdua. #Eh. Ini kalau jendela di buka bisa liat aktivitas di seberang. Parkiran gedung Suara Merdeka πŸ˜‚
Dari malam itu sampai pagi harinya belum ada kepastian kapan operasi. Karena dokter Syarief memang dikenal sebagai salah satu dokter yg super sibuk. Paling banyak pasiennya. Dan praktek di beberapa RS ternama. Bayangin waktu kontrol aja pernah yang nunggu dari pagi jam 8 Dokternya baru nyamper di RS jam stgh 3. Nunggu sekitar 6,5 jam an. Hhh. Tapi ya namanya pasien setia gitu ya. Ya sudah deh dibela2in nunggu antrian smpai sedemikian lamanya (yakali. Mau kemana lagi kl ga nungguin. Org dr luar kota kan ya πŸ˜‚)

Pagi harinya sekitar jam 8 ada suster yang memberi tahu bahwa operasi akan dilakssanakan jam 1 siang. Untuk itu saat itu juga aku disuruh untuk puasa. Alhamdulillah sudah ada kabar pikirku. Ternyata beberapa jam kemudian suster kembali memberitahu bahwa operasi tidak jadi jam 1 tapi jam 3 sore. Beberapa saat kemudian di ralat kembali nunggu kabar lagi dari dokter. Hmmmm. Baiklaaah."Harap bersabar ini ujiaann" gumamku menghibur diriπŸ˜‚ 

Sekitar jam 5 sore ada suster masuk dan memintaku untuk bersiap-siap karena akan dibantu untuk persiapan tindakan. Haish. Mulai kerasa makin kencang deh dag dig dug der daiaaa.. 
Jam setengah enam aku sudah siap diatas kasur untuk operasi lengkap dengan baju pasien operasi khusus. Ada suster yang mendorong menuju ruang operasi. Disitu sempat disuruh berdoa dan masih bisa "pamitan" sama misua. Karna yang boleh masuk cuman misua. Sampai di ruang operasi sudah ada dokter anastesi yang menyambut dengan ramah juga dokter Rivai selaku dokter anak. Disaat semua perawat di situ melakukan persiapan obat dan peralatan yang di butuhkan dokter. Dokter anastesi ini yang mengajakkku cerita sambil menanyakan panjang tubuhku. Aku sempat heran. Dan baru tahu kalau ternyata panjang suntikan itu diukur berdasarkan tinggi badan juga *imho. Oiya sebelum disuntik yang paling melegakan adalah dipasangnya oksigen di hidung. Pengalaman waktu lahiran dhafin dulu aku sempat sesak nafas waktu suster ikut mengurut dari atas dadaku agar bayi dhaf turun. Sampai2 malam harinya pasca operasi  aku kesulitan nafas.
Setelah dibius, dipasang juga kateternya. Dan sekitar jam 6 kurang seperempat dokter syarief datang. Tanpa banyak bicara langsung saja proses operasi di lakukan. Tak sampai setengah jam atau sekitar jam 18.02 babyku lahir. Alhamdulillaaah.
My lil guardian angel. Thanks to Allah the Almighty.

Pasca operasi aku di bawa ke ruang observasi. Karena puasaku kelamaan versi dokter anastesi, maka begitu masuk ruang observasi sesuai request dokter anastesi aku diberi minum segelas teh hangat. Tak lama kemudian di beri juga bubur sum-sum yang benar2 menghangatkan tubuhku yang sempat menggigil sebelum operasi tadi. Betapa tidak? Ruangan dengan suhu udara yg sangat dingin dengan keadaan setengah bug*l itu membuat gigi dan tulangku yg tipis itu bergemeletuk. Rasanya sudah mirip sekali di kutub utara πŸ˜‚

Di ruang observasi ini rasanya lama sekali. Tapi kusenang. Karna sempat yg IMD dengan bayiku di sini. Hmmm, bisa memeluk bayiku untuk yg pertama kalinya. Dan melihatnya mencari puting sendiri itu seperti keajaiban yg nyata ada di dunia para ibu. Saking takjubnya aku bukannya mengajak bayiku berbicara seperti pesan suster tadi. Tapi malah menciuminya terus menerus sambil berlinangan airmata. Hiks. Siapa yg tidak terharu ingat bayiku sebelumnya yg meninggal waktu lahir yang belum sempat aku lihat bentuknya apalagi untuk kupeluk sama sekali seperti ini?😭😭

Selain IMD disitu aku juga disuntik. Kalau gak salah untuk melihat adanya reaksi/alergi obat2an tertentu. Setelahnya menunggu obat rujukan dokter.

Jam setengah 12 malam aku baru bisa keluar dari ruang observasi dan disambut oleh suami dan keluarga kakakku. Rasa jahitannya sendiri tidak begitu terasa. Yang ada perasaan lega. Jam setengah 2 pagi adik bayi dibawa keruangan untuk di beri ASI. Dia diperbolehkan tidur disampingku. Alhamdulillah pengalaman IMD tadi membuatnya tidak kesulitan untuk minum ASI. Langsung lancar. Begitupun dengan ASIku. 

Ini foto pertama kali baby Than masuk ruangan kamarku untuk pelekatan πŸ˜πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—

Malam itu yang kurasakan cuman nyeri sedikit sedikit bersamaan dengan kenyotan adik bayi yang sangat kuat. Sekali dia minum maka jahitan luka seperti ditarik rasanya. Tapi tidak sesakit waktu SC 3 kemarin sih. Yang biasanya malam gitu ga bisa tidur karna jahitan mulai "ngaboh-ngabohi" pasca bius hilang.
Si mata malaikat πŸ˜‡

Pagi hari juga jahitannya cuman celekit2 biasa. Alhamdulillah masih bisa di atasi. Malamnya, pasca visit dokter dan memastikan kalau jahitannya bagus, dokter meminta suster untuk mencopot infus dan kateterku. Yasssalaaam. Padahal aku belum sedikitpun bisa beranjak. Bergerakpun masih belum banyak. Tapi ternyata itu memang program mobilisasi dini yang saat ini memang sedang digalakkan. Kalau tidak salah inti dari program ini adalah pasien operasi SC cuman diberi waktu selama 3 hari di RS sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.  Untuk infus dan semua selang yg dipasang pun cuman berlaku satu hari. Hwaaaaa. 

Betewe Rule is rule. Rite? Mancrut eh manut deh. Meski dengan hati yg getir. Bayangin gimana kalau mau pip*s? Hhhhh. 
Walhasil, pasca dilepas semua selang, minum jadi diirit2. Biar ga sempat ngerasain kebelet. Tapi diantara dinginnya ruangan, pertahananku jebol juga sekitar jam stgh 3 pagi. Karna belum bisa gerak sama sekali. Aku bangunin suami. Minta dipapah ke belakang. 
Dengan benar2 tertatih dan mengikuti petunjuk atas apa atau bagian tubuh yg mana dulu yg harus digerakkan ke pak suami. Akhirnya berhasil juga jalan dari kasur ke kamar mandi. Meski setelah sampai diatas kasur kembali rasa sakit jahitannya ga cuman di lukanya aja. Tapi terasa juga sampai di kepala. Saking suakkitnyaaa. Perut sengkrang sengkring. Kepala ikut nyut-nyut. Hasilnya? Ga bisa tidur sampai pagi. Anak bayipun rewel. Karna gabisa asyik menyusu seperti malam sebelumnya gara2 emaknya kesakitan melulu. Huhhuu. Selain itu, efek pasca oeprasi SC4 yg paling kurasakan adalah tanganku yg mati rasa. Awal mulanya seperti kesemutan. Lama-lama jadi tidak berasa sama sekali (dan ini hilang sendiri setelah baby F usia 2,5 bulan).

Sampai hari ke-3 di RS rasa sakitnya masih sering menguar. Bahkan ketika posisi sedang tidur lelap pun aku sempat beberapa kali terbangun dengan menjerit karna seperti merasakan ada yg menarik benang jahitan operasiku 😣😭. Sakit sampai nyesek. Sempat terpikir apa begitu juga rasanya malaikat pencabut nyawa mencabut nyawa makhlukNYA ya? Wallahu a'lam bish shawwab.

Tapi yg bisa aku syukuri di hari ke-3 itu adalah, aku sudah mulai "agak sedikit" lincah gerak donkπŸ˜‚ Dokter yang visitpun sudah mulai menginstruksikan untuk pulang. Tapi rasanya kok belum sanggup menghadapi kenyataan *haish*. 

Selain aku yg mulai bisa "sedikit" gerak, di hari ketiga ini ada yg spesial. Yaitu menunya. Kalau dua hari sebelumnya makan sesuai petunjuk dokter gizi mungkin ya. Yang hari ketiga pasien diperbolehkan untuk memilih sendiri menu makannya. Dan setiap hari ada menu western yg bisa dipilih. Ini mungkin salah satu fasilitas yg ada di kelas VIP selain boleh ditungguin oleh lebih dari 1 orang. Minus tempat tidur buat yg jaga seperti kalau di kelas SVIP. Kalau di VIP adanya sofa panjang satu.
Daftar menu makanan pasien hermina pandanaran semarang
Kuisioner berupa pilihan menu setiap harinya. 

Menu makan ala western di RS. HERMINA
Salah satu menu requestku. Lumayanlah dapat beef steak setelah menghindari steak selama hamil.

Selain menu makan yang spesial, yang istimewa di RS. Hermina adalah penanganan yg serba profesional. Dari awal sampai akhir alhamdulillah semua tertangani dengan baik. Suster yg informatif, cooperative dan tentu ramah juga bikin nyaman. 

Sayangnya cuman satu. Selama hampir 5 hari dirawat disini (Aku masuk selasa. Pulang sabtu malam) belum pernah sekalipun sprei kasurnya di ganti. Entah memang prosedurnya seperti itu. Atau akunya yg memang kurang informasi soal itu (aka ndessoo😎)
Seandainyapun itu diganti dan di masukkan ke charge dengan catatan ada pemberitahuan sebelumnya mungkin jadi lebih enak (buatku). Masalahnya tau sendiri orang habis lahiran dan sedang masa nifas kan berdarah2 gitu kan ya?hehe. Kalau sebelumnya dikasih tau buat bawa sprei/perlak sendiri dari rumah kan bisa persiapan sebelumnya 😊.

Tapi so far, puas  banget kok dengan pelayanan di RS. Hermina. So buat kamu yg bingung mau lahiran dimana di semarang? Mungkin Hermina Pandanaran Semarang bisa jadi salah satu pilihannya. 


Salam.







20 comments:

  1. Wah dokter syarif taufiq sama dokter fadjar mah langganan kita untuk progmil selama di Semarang, aku SIS dan program alami lebih dari 3x ama dokter syarif sejak 2011 di Semarang, dan inseminasi 2016 oleh dokter Fadjar, mereka berdua memang satu tim dokter kandungan di Hermina yang menangani pasutri yang sudah lama menanti buah hati kasus infertilitas dan sc yang kesekian kalinya, Hermina Pandanaran mah saksi kita progmil dari 2009 sampai 2017 mau pindahan ke Jakarta, sekarang Hermina Bogor dan Jakarta disini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah.. dokter syarief juga ya mbavit. Emg bliau spesialisasinya buat progmil ya... tp kmren beliaune jg cerita menanganin kehamilan yg riwayatnya kyk filza jg. Cuman dl pas filza mlh blm ketemu beliauna

      Delete
  2. Perjuangan seorang ibu ya mbak. Masuk ruangan operasi udah gak karuan. Aku lahiran arkaan ya di hermina pandanaran. Enak dan ramah. Sempat menggigil di ruang observasi jg. Bojoku nyuapin bubur sumsum. Tak tanya, dingin banget gak sih? Dijawab enggak. Mungkin efek sc. Terus aku bilang suster, dikasih apa gitu lewat infus, baru ilang. Ah, aku blm nengok dedek bayiiik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Owalaaah. Ak kedinginannya diruang operasinya mb. Trus hbs itu ditaro di ruang observasi sampai nggigilnya ilang. Baru boleh pindah ruang perawatan. Makanya paling lama di ruang observasi itu malah.hehe.. didoain aja dr jauh mba wuri. Semoga adik sehat selalu. Udah seneng kok. Makasih yaa mbak 😘

      Delete
  3. Selamat ya mbaakkk, luar biasa SC sampai 4 kali, daku baru 1 kali hehe

    ReplyDelete
  4. Aku bacanya campur aduk, Mbak. Merinding, haru, ngekek juga. Betapa perjuangan Mbak Rahma dan suami, Ya Allah, luar biasa banget. Tak patutlah ya kalo diriku ini mengeluh. Sehat selalu untuk keluarga, Mbak.

    ReplyDelete
  5. Masyaallah, ngeri2 sedap bacanya. Enak ya tempatnya. Menunya bisa request lagi. Dedenya lucuuu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Makasih mbak..iya enak tempat dan.menunya

      Delete
  6. Selamat lagi atas kelahiran ananda y mba.. semoga sehat selalu.. duh bacanya sambil ikut deg2an..hehe... Saluut utk perjuangan para ibu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa ibu dengan oerjuangannnya sendiri2 yaaa. Btw makasih mba tanti

      Delete
  7. Bacanya ikut deg2kan kok an mbk hehe. Memang sc butuh penanganan sangat khusus. Yg penting cepet sehat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak wahyu...sehatnya ttp takes time. Yg pntg ibu dan bayi selamat yaaa πŸ˜‰

      Delete
  8. Haduh mbak merinding aku bacanya ngebayangin perjuangan hamil dan melahirkan ternyata sungguh panjangggg...btw selamat mbak. Wajahnya si dedek udah keliatan jelas, dari foto mirip sama mbak rahma hihi. Mau dong ketemu sm dedeknya pankapan

    ReplyDelete
  9. Adeknya lucu bangetttt.
    Selamat ya mbak. Perjuangannya sungguh sesuatu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. iya dini. Sesuatu banget. Makasih yaks...

      Delete
  10. MasyaAllah Mbak, ceritanya buat terharu..
    perjuangan banget ya Mbak, berkali-kali hamil gitu, tapi Mbak InsyaAllah udah punya bidadari-bidadari sebagai penolong ortunya kelak, Aamiin.

    Adik bayiii, lucu banget sih kamu, Nak.. sehat2 yaaah :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin aamiin yra. Makasih doanya ya mbak. Swmoga mbak sekeluarga jg sehat2 snantiasa. Aamiin

      Delete

Mohon berkomentar dengan baik ya. Terimakasih.

rahmamocca. Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Follow by Email